12.8.17

[KKN's Journal] Arung Dalam dan Anak-Anaknya

“Kak Zahraaa..”
“Kak, ayo ke pantai kak..”
“Kakak Zahra, nanti sore kita ke pantai ya...”
“Kak, nak permen?”
“Kakak jangan pergi... Kakak tinggal di sini aja temenin aku..”
“Kak Zahra nanti balik lagi ya ke Bangka...”

****

Dua bulan. Hampir dua bulan lamanya saya hidup di tengah-tengah mereka. Menjadi masyarakat Arung Dalam, Bangka Tengah. Kalimat-kalimat di atas, adalah kalimat yang hampir saya dengar setiap hari lewat mereka. Anak-anak Arung Dalam. Cerita mereka, saya mulai disini.

Pertama kali menginjakkan kaki di Arung Dalam, Koba, Bangka Tengah, saya tidak pernah terpikir akan memiliki “banyak anak”. Saya sendiri sulit sekali mencoba berbaur dan berkenalan dengan anak-anak yang tinggal di dekat pondokan mahasiswa KKN. Kendala terbesar saya yaitu bahasa.

Seringkali saya hanya melihat mereka dari jauh, di teras pondokan. Saat itu, saya ingin sekali bisa ikut bermain bersama anak-anak, seperti beberapa teman saya. Saya pernah berkata kepada salah seorang teman saya yang sudah begitu akrab dengan anak-anak, melalui chat, karena dia sedang asik bermain di teras pondokan depan.

"Pengen juga main sama anak-anak..."

Ujar saya saat itu. Jawabnya, “Ya mainlah sini”. Ya memang, kalau mau main ya, menghampiri, bukan hanya melihat dari jauh. Tapi saya saat itu masih sulit keluar dari zona nyaman saya. Masih mencoba mengobservasi situasi. Dan saya memang butuh waktu agak lama untuk itu.