1.4.17

Perjuangan dan Kepastian

"Wanita itu butuhnya cuma dua, mas. Perjuangan dan kepastian.”

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Haha, kutipan awal di atas greget yak, mungkin yang baca bakal ngira ini postingan baper. Ya gatau sih bakal baper apa engga. Yang jelas, saya mau berbagi cerita yang saya dapet hari ini dan bikin bahagia setelah dua minggu kepala rieut, jenuh, kehilangan motivasi, mager, baper, dan segala macam hal negatif lainnya. Ohya, cerita kali ini akan sedikit panjang. Kalo betah, monggo baca sampai selesai, kalo engga ya, dibaca aja, ntar juga selesai hehehe...

Saya sudah merencanakan perjalanan hari ini sejak bulan lalu. Tapi kalo dirunut lagi sejarah perencanaannya, sepertinya saya sudah merencanakan perjalanan ini sejak tahun lalu. Jalan-jalan sendiri, ke Malioboro, di malam hari, menikmati keramaian dan menjemput hikmah dari segala yang saya lewati selama perjalanan. Maka, alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan hari ini.

Saya menyadari betapa bandel dan keras kepalanya saya ketika saya dalam kondisi tertekan dan (menuju) depresi sedang. Ada agenda yang seharusnya saya datangi hari ini dan besok. Ya, saya gabisa bilang itu agenda apa, yang jelas, sesuatu yang tidak saya rencanakan dan sesuatu yang anehnya justru bisa membuat saya semakin tertekan. Bahkan untuk memikirkannya saya saya spaneng. Daripada saya malah memaki-maki dan jadi sambat, saya memilih untuk menenangkan diri. Dan saya pun izin ke orang tua saya sebelum berangkat.

Berhubung saya lagi gaada kendaraan, Transjogja jadi pilihan saya untuk berangkat. Tanpa disangka, ada kecelakaan kecil terjadi. Transjogja yang saya naiki nyerempet sebuah mobil di pertigaan lampu merah Malioboro. Bukan salah TJ nya sih menurut saya. Karena mobil yang keserempet itu maksa masuk celah kecil di sebelah kanan bis dan ngejar lampu merah. Ya gitu deh. Jadilah dibahas di bis.

“Ya sekarang mah gitu sih mas. Kitanya udah hati-hati, tapi orang lain yang ga taat aturan.”

Kata seorang ibu yang ada di dalam Transjogja saat menunggu proses damai di pos polisi. Persis seperti apa yang selalu dikatakan sama mama saya. Ya, saat ini banyak orang punya kendaraan pribadi, punya SIM, tapi di jalan raya ntah gimana. Beberapa kali saya nyaris ditabrak sama motor dan mobil saat nyebrang. Kenapa? Karena gaada yang mau ngalah. Ga di jalan raya, ga di jalan kecil, senengnya kok ngebut. Udah tau ada orang mau nyebrang gitu, nengok kanan-kiri, nunggu kendaraan berhenti dan memberi kesempatan. Tapi bukannya melambat, malah menaikkan kecepatan. Ntahlah. Pertama kali saya merantau ke Jogja, kendaraan pribadi, khususnya motor, ga sebanyak saat ini. Jalan raya jadi serem.

Sekita 10-15 menit, akhirnya damai dan transjogja jalan lagi. Saya turun di halte Malioboro 2. Menyusuri pedestrian Malioboro yang udah lumayan bagus, banyak lampu-lampu jalan. Ah, saya selalu suka lampu haha, biasanya liat lampu GSP doang. Saya sadar, sepanjang jalan saya senyum-senyum sendiri. Ntah liat orang yang lagi foto-foto, selfie, pacaran, jual bunga, daaan (apa ya namanya) itu lho, transformer-transformeran di depan Monumen Sebelas Maret, KM Nol Malioboro. Ntahlah, seneng aja liatnya. Jalan sendiri, ga perlu ribut mau kemana, mau duduk apa lanjut jalan, dan ga bingung karena sendiri. Bebas kemana aja hahaha... Ramai, ya malam minggu. Dan saya merencanakan akan sering-sering jalan-jalan menjemput hikmah haha..

Sepanjang jalan kita bisa liat orang-orang jualan. Ada yang jualan sate, bapia, es teh, wah macem-macem. Banyak pedagang, banyak target pembeli, tapi tetap, penolakan adalah hal yang harus diterima dengan ikhlas. Ya bayangin aja, yang jual sate misalnya, di satu tempat ada 3 penjual sate yang sama. Sama-sama menawarkan dan memanggil pembeli, tapi yang dateng bisa ada, bisa juga gaada. Bisa dateng ke dia, atau penjual di sebelahnya. Kalo ga kuat-kuat hati, mungkin nyerah kali ya. Tapi lihatlah. Betapa para pedagang itu begitu tangguh dan nyerah jualan meski tau, hasil yang akan didapatkan tidak pasti. Mereka masih usaha. Rejeki biar Allah yang ngatur.

Trus saya jadi mikir ya, selama ini ngapain aja? Udah beneran berusaha belum? Udah beneran berdo’a belum? Udah bener-bener yakin sama rejeki dan ketentuan Allah belum? Atau jangan-jangan gagal sekali trus langsung nyerah. Ah, betapa malunya sama mereka yang ga lelah berjuang demi hidup.

Dan kadang, kita terlalu asik sama dunia sendiri. Dunia gadget, update sana, update sini, tanpa menjemput hikmah. Kadang kita terlalu terburu-buru. Naik motor ngebut, naik mobil ngebut. Jarang mau jalan pelan-pelan, menikmati apa yang di depan mata, menyimpan dalam memori, dan tersenyum untuk diri sendiri.

Saya lanjut perjalanan ke Taman Budaya Yogyakarta. Ada pameran arsitektur dan menjemput kopi gratis hahaha... Saya ga ngerti apa-apa soal arsitektur. Tapi saya dari kecil selalu seneng liat maket-maket yang dipajang. Misalnya kalo ke hotel apaa gitu, atau rumah sakit apaa, atau gedung apaa gitu, kan suka ada maket gede di dalam boks kaca yang dipajang di ruang strategis. Seneng liat detail-detail dan selalu mikir, “kok bisa bikin sampai se-detail ini..”

Saya keliling pameran, beberapa kali ambil foto. Selesai keliling, saya ke gedung Societet, kepo sama presentasi anak-anak arsi UGM. Beuh, saya gabisa berhenti ber-wow ria. Ya karena saya ga ngerti apa-apa soal itu, jadi liat desain, rancangan bangunan, perencanaan tata ruang, dan video bangunan 3D mereka keren banget. Layout presentasinya juga keren, rapi, animasinya slidenya, mantaplah. Hanya mungkin masih ada beberapa yang presentasinya grogi dan tulisan di ppt nya ga keliatan karena kecil banget haha... Dan bener, kalo pemerintah daerah ga dateng dan perencanaan tata ruang ini ga sampai sama petinggi-petinggi Jogja, sayang banget! Seriusan deh. Saya ngebayangin betapa rapi dan hijaunya Jogja kalo semua itu bisa direalisasikan.

Ya begitulah, saya janjian sama seorang teman lama, dia panitia acara ini. Temen se-gugus pas ospek univ 2014 lalu. Dia ngejanjiin kopi gratis, dan saya yang suka kopi langsung maulah ya, apalagi gratisan haha.. Kami beli kopi di stand makanan yang ada di sana. Ternyata stand kopinya itu adalah kopi yang beberapa waktu ini menarik perhatian saya. Ya gimana engga, kedainya dia ada di gang jalan mau ke kosan, plang nama kedainya warna kuning. Cetar bangetlah. Tiap pulang kuliah selalu lewat kedai kopi itu, tapi belum pernah berani mampir.

Alhamdulillah, mas yang jual kopinya asik diajak ngobrol. Kami kenalan, mas nya ada 3, tapi pas kenalan yang satunya lagi pergi, jadi saya taunya Mas Syaiful sama Mas Agi. Kami ngomongin kopi-kopi, robusta dan arabika, kopi sachetan, mas nya yang gasuka kopi malah sekarang jadi bartender, dan banyak hal sampai ke masalah cinta~

Awalnya ngomongin temen saya yang pengen nikah muda (hahahaha saya lupa ini berawal dari mana kok tiba-tiba ngomongin nikah). Eh, Mas Syaiful ini ternyata udah nikah, udah punya anak pula. Ya saya kan kepo ya, jadi saya probing terus masnya. Jadilah cerita perjalanan cintanya wkwkwk.

“Saya sebelum nikah ditikung sama temen saya, mas.”

Ceritanya Mas Syaiful ini mau menghibur dan menyemangati temen saya, Boim. Jadi, singkatnya masnya ini udah suka sama seorang perempuan, dia cerita ke kakak seniornya. Eh, malah kakak seniornya itu suka sama perempuan itu. Terjadilah persaingan di antara keduanya #tsaaah. Berhubung sama senior, mas Syaiful (katanya) akhirnya ngalah.

“Ya ceritanya kan patah hati saya. Jadi butuh pelampiasan. Kebetulan saya seneng naik gunung dan diajakin naik ke Semeru.”

Dan singkat cerita, beliau bertemu dengan (calon) istrinya pertama kali disitu. Konspirasi semesta, banyak drama selama naik gunung. Pokoknya masnya ini jadi selalu mengikuti segala event yang ada mbaknya. Jogja-Jakarta ditempuh (so cheesy). Berapa kali saya teriak kecil, greget aja sama ceritanya. Berasa nonton drama hahaha. Dan, mas nya akhirnya memberanikan diri ngajak serius, tapi lewat telpon. Mbaknya ini minta waktu 2 minggu dan sebelum 2 minggu, mbaknya ngajak ketemuan di... BOGOR. Haha. Bogor. Ah sudahlah. Intinya masnya diterima dan akhirnya mereka menikah, Januari 2016 lalu. Ini keponya mantaplah wkwkwk.

“Wanita itu butuhnya cuma dua, mas. Perjuangan dan kepastian.”

Sampailah pada kalimat ini. Haha, ya udah banyak sih quote-quote yang katanya baper isinya ga jauh-jauh dari ini. Saya sebagai perempuan setuju. Perjuangan dan kepastian. Tapi sepertinya ga hanya perempuan, dan ga hanya soal cinta.

Dalam hidup ini pun, banyak orang, laki-laki dan perempuan, butuh perjuangan dan kepastian. Dan dalam hidup ini isinya ya perjuangan dan kepastian. Kok gitu? Ya dipikir aja. Tujuan hidup kita apa? Untuk mencapai tujuan hidup itu kita harus ngapain? Ya berjuang dan berusaha kan?

Bahkan bagi seorang muslim yang katanya yakin sama Qada dan Qadar nya Allah, ga jarang mempertanyakan,

“Jadi maksudnya semua ini apa?”
“Do’aku bakal dikabulin apa engga?”
“Apakah aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan?”

Seyakin-yakinnya kita, pasti ada satu titik dalam hidup kita yang mempertanyakan semua yang terjadi ini muaranya kemana. Kita hanya bisa menerka-nerka sampai semuanya terjadi baru kita mendapatkan sebuah kepastian.

Berjuang dan Kepastian.

Semua orang butuh perjuangan untuk mendapatkan kepastian. Semua orang ingin mendapatkan kepastian atas perjuangannya. Ya, bagi saya, ga hanya wanita, dan ga hanya soal cinta yang butuh perjuangan dan kepastian. Tapi dalam hidup semua orang, isinya adalah perjuangan untuk kepastian.
Yang pasti semua orang akan mati. Yang pasti kehidupan dunia hanya sementara. Yang pasti semua yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawabannya kelak, di akhirat, di persidangan yang paling adil. Persidangan akhirat, dengan Allah sebagai hakimnya.

Maka, tugas kita di dunia adalah berjuang untuk hasil terbaik di persidangan nanti. Berjuang mendapatkan ridhoNya, dengan cara yang Allah sukai, dengan menjauhi apa yang Allah larang. Kepastian pun akan kita dapatkan sesuai dengan apa yang sudah kita perjuangkan.

Bahkan ketidakpastian itu sendiri adalah sebuah kepastian. Hahaha... Ah sudahlah, intinya, saya tidak pernah menyesal melakukan perjalanan dan menjemput hikmah disetiap saatnya. Soal cinta? Ah sudahlah, saya bahas di postingan selanjutnya hahaha..

Ohya, saya pulang naik Gojek. Mas nya ramah banget. Kami ga banyak ngobrol di jalan, karena saya juga bukan orang yang bisa membuka pembicaraan begitu saja. Pas sampai di lampu merah Jakal, masnya bilang,

“Maaf nih mbak, saya mau bilang, nama mbaknya sama kaya nama anak saya.”

Ntah kenapa dia tiba-tiba bilang gitu. Dan entah kenapa saya juga seneng. Terbukalah obrolan lain. Saya tanya anaknya umur berapa dan soal orderan Gojek masnya. Anaknya umur 6 tahun, baru mau masuk SD. Dan masnya ngeGojek buat sambilan. Pagi sampai sore jadi sales. Jual makanan anak-anak keliling, motoran terus. Dan beberapa kali saya perhatikan, masnya batuk-batuk. Mungkin, efek motoran seharian kali ya, kena angin terus, mana Jogja hawanya sedang panas banget trus tiba-tiba hujan dan dingin banget. Itu salah satu bentuk perjuangan. Ntah kepastian apa yang diinginkan oleh masnya hahah... Ya, semoga mas nya sehat-sehat aja ya. Biar bisa terus berjuang buat keluarganya :)

Dan FYI, do’a orang tua itu luar biasa pengaruhnya. Saat saya jalan ke TBY, saya ngechat di grup keluarga.

“Ma, menurut mama, apa aku akan menemukan yang ingin aku temukan?”
“Ketemu...ha..ha..” kata papa
“Hari ini apa besok?” tanya saya lagi
“Hari ini” masih papa yang jawab
“Mama gimana?”
“Mama sudah mintakan sama Allah... tinggal kapan mbak sa membutuhkan dan mau menjemput pemberianNya..” jawab mama

Dan, saya benar-benar menemukan apa yang ingin saya temukan. Hikmah, semangat, motivasi, kebahagiaan, dan relasi. Siapa yang sangka? Saya temukan itu sepanjang perjalanan. Ya, hikmah dan rejeki tidak bisa kita tunggu supaya datang begitu saja. Harus dijemput. Dengan usaha dan do’a yang berjalan seiring dan jangan lupa, restu orang tua juga penting. Karena ridho Allah ada pada ridho orang tua :)

Kalau jodoh? Hahaha, saya juga berjuang untuk itu. Ntah nanti kepastiannya seperti apa, terserah Allah aja.

salam,

anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar