26.4.17

Lotre, Usaha, Takdir: Untuk Pejuang Ilmu Peguruan Tinggi

“Undangan itu Lotre, SBMPTN itu usaha, kaya itu harga mati, nikah sama orang kaya itu takdir!”
“Ibarat ke Bandung, naik mobil lewat Cipularang itu SNMPTN, naik mobil lewat puncak itu SBMPTN, naik motor lewat puncak itu UTUL”

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Hari ini adalah hari yang mendebarkan, dinanti, dan bersejarah mungkin bagi sebagian orang, terkhusus adik-adik kelas 12 SMA. Hari ini adalah hari pengumuman hasil SNMPTN 2017. Yah, karena sudah jauh perbedaan tahunnya, saya tidak terlalu banyak mendapat kabar adik-adik saya yang SMA haha.. Hanya saja, hari ini mendapatkan sebuah kisah dari seorang teman saya yang adik kelasnya masih harus berjuang lebih setelah ini. Juga, berbagai postingan di media sosial yang notabene isinya menyemangati mereka yang belum lolos jalur SNMPTN ini.

Saya pun memutar kembali memori tiga tahun lalu, saat saya masih duduk sebagai seorang bocil SMA kelas 12 yang dirundung kecemasan sebelum hari pengumuman. Tahun 2014 lalu, pengumumannya hari Minggu tanggal 28 Mei 2014, pukul 12.00, saya ingat sekali karena itu bertepatan dengan ulang tahun mama saya haha. Kalo disuruh menceritakan apa yang terjadi saat itu, saya masih bisa menceritakan dengan detail, bagaimana wajah mama saya, apa yang sedang dilakukan adik saya, bagaimana suasana Bogor siang itu, bagaimana wajah papa saya yang langsung pulang ditengah jam kerjanya, bagaimana perasaan saya, semuanya. Saya masih bisa menceritakannya dengan detail.

Tapi yang ingin saya tulis disini bukan itu. Karena semua itu pernah saya tulis di pos sebelumnya (cek disini). Yang ingin saya bagikan adalah sesuatu yang berkaitan dengan diskusi saya dengan seorang teman diskusi terbaik saya saat ini—tentang pendidikan, psikologi, dan ha-hal serius lainnya—dan berkaitan juga dengan quotes di awal tulisan ini. Quotes itu dulu terpajang di papan tulis kelas saya, untuk penyemangat dan humor-humor anak kelas 12 SMA haha.. Oke kembali ke diskusi saya dengan teman saya.

Diskusi ini dimulai dengan cerita dia tentang adik kelasnya yang saat ini sedang pembinaan karena penelitiannya lolos ke konferensi Internasional di Amerika. Pencapaian ini bukan pencapaian biasa. Karena disaat yang sama, adik kelasnya ini kelas 12 yang sedang menanti pengumuman SNMPTN. Tapi sayangnya, ia tidak lolos disaat teman-teman satu pembinaannya lolos semua. Dan yang lebih mengejutkan apa? Saat dia lomba di Amerika nanti adalah saat-saat SBMPTN berlangsung. Itu artinya, adik kelasnya yang tidak lolos SNMPTN ini juga tidak dapat mengikuti SBMPTN. Oke, sampai selesai dia cerita ini, ada yang nyeri di dada saya. Ntahlah, sedih tapi ya gimana lagi...

Sampai pada dia mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaan menggelitik yang dia ajukan adalah, penting ga sih ada seleksi untuk masuk perguruan tinggi?

Wah, dia nanya itu pas lagi kelas pengganti konseling kelompok tadi sore. Antara saya pengen diskusi panjaaang banget sama dia tapi juga pengen dengerin temen yang lagi presentasi di depan. Akhirnya saya membagi atensi saya walaupun agak susah ahaha..

Panjang jawaban yang saya berikan buat dia. Tapi intinya adalah, saat ini, menurut pandangan saya, seleksi itu penting dan perlu. Ada SNMPTN, SBMPTN, Utul maupun seleksi lainnya untuk masuk perguruan tinggi. Kenapa? Sekali lagi ini menurut pandangan saya pribadi—yang muncul tiba-tiba dengan lancarnya tadi banget haha—karena kita (mungkin) bisa mengukur dan memprediksi kemampuan seseorang di masa depan dengan nilai dan hasil prestasinya selama 3 tahun—kalo dari teori di matkul TAPP. Kalo emang beneran serius belajar selama 3 tahun, harusnya wajar jika dia masuk batas atas rata-rata. Juga keinginan akan apresiasi, ibaratnya, kita udah serius belajar selama 3 tahun di SMA atau 6 tahun jika dihitung sejak SMP atau 12 tahun jika dihitung sejak SD, kita ingin mendapatkan hasil dari usaha keras belajar selama itu, dan ada yang namanya jalur cepat masuk perguruan tinggi yaitu SNMPTN. Maka, apresiasi yang kita inginkan tanpa sadar adalah dapat masuk ke perguruan tinggi lewat jalur cepat alias undangan alias dengan setor nilai rapot alias dengan SNMPTN. Kebayang kan?

Gimana dengan yang SBMPTN? Mereka yang ga lolos SNMPTN bukan berarti tidak lebih bisa atau tidak lebih berhasil atau tidak lebih mungkin punya masa depan cemerlang dibandingkan yang lolos SNMPTN. Hanya saja, mungkin, mungkin lho ya, ini asumsi aja, pendapat pribadi aja, ada masa-masa selama SMA itu yang membuat beberapa siswa kehilangan ritme belajar sehingga ada sedikit ketidakseriusan di dalamnya. SBMPTN bisa menjadi sebuah kesempatan kedua untuk membuktikan diri bahwa kita bener-bener serius mau terus belajar di perguruan tinggi. SBMPTN juga bisa menjadi sebuah ajang balas dendam bagi mereka yang sebenernya merasa yakin harusnya bisa dapet SNMPTN tapi ternyata ga dapet.

Lah, kalo ada anak yang rajin banget, pinter banget, peduli banget sampe ngajarin temen-temennya, eh malah ga lolos SNMPTN, gimana? Kalo ini... Bagi saya faktor X. Faktor lain yang kita gatau. Apa yang saya yakini adalah, mungkin, Allah masih ingin mendengarkan suara indah do’a-do’a kita disetiap malam, memohon dan menggantungkan masa depan hanya kepada Allah. Mungkin, Allah masih rindu sama kita yang sekian lama gapernah berdo’a seserius ketika kita berdo’a minta diterima di SNMPTN. Atau ada pencapaian yang lebih besar lagi ketika kamu tidak diterima SNMPTN. Apa itu? Ya saya gatau, hanya asumsi-asumsi dari pengalaman yang saya alami di kejadian lain mirip seperti ini.

Ya, namanya seleksi, banyak faktor penentu kenapa seseorang diterima atau belum diterima dalam hasil seleksi itu. Pun ketika menunda kuliah setahun, itupun pilihan.

Ah, kamu ngomong gitu karena ga ngerasain rasanya SBMPTN sih, jadi gampang ngomong doang.

Haha, iya, ngomong emang gampang. Saya bisa bilang gini juga setelah melalui banyak hal yang terjadi dalam 3 tahun kuliah sampai sekarang ini.  Ketika menerima cerita mereka yang nggak lolos SNMPTN, saya selalu membayangkan jika dulu saya juga harus SBMPTN lagi. Kayaknya saya bakal drop banget dan bakal sulit untuk bangun. Mungkin saya akan sangat merasa bersalah, merasa bodoh, merasa tidak pantas kuliah, dan putus asa. Orang IP saya turun semester 3 kemarin aja saya stresnya sampe nginep di rumah sakit selama 3 hari 2 malam haha...

Saya bisa mencoba merasakan itu. Saya ga kebayang segimana hancurnya perasaan mereka yang sangat mengharapkan SNMPTN tapi akhirnya harus melalui tahap ujian-ujian lain. Karena kalo saya yang mengalami, saya bisa jadi butiran debu haha... Mungkin saya bisa beri saran, diterima atau tidak itu terserah penerimanya gimana. Sarannya...

Jadikan SBMPTN atau UTUL atau segala macam ujian itu ajang balas dendam dan pembuktian. Balas dendam karena kamu kecewa, balas dendam karena tidak lolos, dan balas dendam dengan membuktikan bahwa KAMU MAMPU! Buktikan dengan usaha yang lebih lagi, dan do’a yang lebih kuat lagi. Usaha dan do’a itu beriringan. Lihat lagi bagaimana hubunganmu dengan Yang Maha Kuasa, apakah karena ngejar undangan jadi belajar mati-matian tapi lupa mengutamakan Dia, atau berdo’a tapi sebenarnya belum yakin padaNya yang Maha Pengabul Do’a, atau belum meyakini bahwa apa yang Dia berikan adalah yang terbaik untukmu. Entahlah, berbeda-beda setiap orang :)

Semangat untuk pejuang SBMPTN dan Ujian Tulis lainnya! Ujian lagi itu bukan berarti gagal. Ujian lagi itu bisa jadi karena Allah ingin memberikan banyak hikmah—apapun itu—kepadamu dengan cara ini dan Allah ingin melengkapi perjuanganmu menimba ilmu dengan lebih sempurna. Menyempurnakan yang belum sempurna di masa lalu. Bangkit dan BUKTIKAN KAMU MAMPU!

Semangat dan selamat untuk pejuang SNMPTN! Memperjuangkan sejak awal. Meski ada yang bilang SNMPTN itu jalan pintas, tapi sebenernya itu adalah hasil perjuangan yang sangat lama persiapannya bukan? Jangan sombong, jangan terlalu berbangga, kuliah tidak se-selo yang kalian pikirkan. Euforia hanya sementara sebelum bertemu dengan....... *isi sendiri*

Sudah untuk malam ini. Saya hanya ingin membagikan apa yang saya bicarakan dengan teman saya sore ini, cukup membuat saya—tanpa sadar—membuka pikiran untuk memandang hikmah secara lebih luas lagi. Semoga kita bisa selalu memungut hikmah yang bertebaran di sekitar kita selalu :)

salam,

anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar