6.3.17

Sahabat?

“Kita sahabatan ya dari sekarang..”
“Iya, kamu sahabat aku dan aku juga sahabat kamu. Kita harus bareng-bareng selamanya.”

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Sahabat. Hmm.. Sebelum memulai, ada baiknya saya bilang kalo ini adalah postingan curhatan. Udah lama ga curhat secara terang-terangan haha..

Jadi, ya, tentang sahabat. Saya pernah bahas ini di postingan jaman dahulu kala. Tentang teman dan apakah kita benar-benar membutuhkan teman. Sejujurnya sejak lepas SMP, saya ga berani mengatakan “Dia sahabat aku”. Kenapa? Karena saya sendiri kehilangan makna dari sahabat. Sampai beberapa waktu lalu pemahaman saya tentang teman dan sahabat adalah mereka yang selalu bersama kemana-mana selain pulang ke rumah masing-masing. Mereka yang selalu bercerita tanpa rahasia dan mereka yang susah senang bersama, tawa tangis bersama. Pokoknya selalu bersama. Seperti penggalan awal postingan ini haha..

Saya takut melabeli seseorang sebagai sahabat saya. Karena sejatinya sampai saat ini tidak ada yang benar-benar selalu bersama saya dimanapun kapanpun saya butuh. Kalo definisi sahabat memang selalu bersama, ya saya akui, saya gapunya sahabat. Bahkan sekedar geng yang selalu kumpul bareng. Gaada.

Saya selalu memilih untuk sendiri sejak kejadian yang saya alami jaman SMP dulu. Saya takut punya teman dekat, terutama perempuan. Ya, saya sempat takut untuk berteman dan dekat dekt perempuan. Saya sempat gamau join bareng temen-temen perempuan. Saya gamau berhubungan sama perempuan selain memang kondisi mengharuskan saya bersama perempuan. Masih begitu, sampai SMA. Saya mengulangi siklus itu sampai akhir SMA. Sempat memiliki beberapa teman dekat perempuan, yang satu liqoan atau satu forum mentoring di SMA. Tapi semenjak kejadian di tahun terakhir SMA, kembali membuat saya takut sama makhluk yang namanya perempuan, saya nyaman sendiri—padahal saya perempuan ya? Hahaha...

Mungkin beberapa orang di luar sana yang kenal saya sering liat saya mainnya bareng laki-laki terus. Yaiya, sampe ada ngira saya pacaran. Ada. Dan itu perempuan, ah sudahlah. Saya gamau bahas yang itu haha..

Sampai sekarang, saya memang lebih nyaman kalau temenan sama laki-laki, ngobrol sama laki-laki, makan bareng laki-laki, ya pokoknya join sama laki-laki, tentunya sama mereka yang mau menerima saya. Kenapa? Karena ngobrol sama laki-laki itu seru. Mi goreng dan es teh aja bisa jadi bahasan seru. Nasi kucing, bakso, olahraga, apapun bisa jadi seru. Kalo sama perempuan, obrolan ga jauh-jauh dari cowok, gosipin cewe lain, tugas, segala hal yang justru bikin saya mumet. Padahal saya perempuan. Aneh kan? Haha...

Pada akhirnya saya mencoba membuka diri, melepas belenggu masa lalu yang berkaitan dengan perempuan. Menetralkan semua pikiran saya tentang perempuan. Dan mencoba sesekali join bareng temen-temen perempuan. Bisa, tapi tidak untuk menjadi teman dekat yang bisa berbagi segala hal tentang saya.

Sampai saya tersadar hari ini. Ternyata ada kok perempuan yang ga hanya gosipin cowo atau gosipin cewe lain. Ternyata ada kok perempuan yang mau diskusi segala macam hal dengan saya. Ternyata ga semua perempuan seperti yang saya takutkan.

Ada 2 orang yang dipikiran saya saat ini. Satu, yang lagi sibuk skripsian dan semoga lulus Mei 2017. Dua, yang besok mau pergi seminggu.

Entah, rasanya label “sahabat” itu ga pas buat mereka. Apalagi “teman”. Lantas apa?

Saudara perempuan.

Meski belum semua hal tentang saya mereka tahu, tapi saya dan mereka saling tau hal-hal penting bahkan ga penting yang ada dalam diri masing-masing. Entah sudah berapa bahasan yang kami obrolkan, tentang makna hidup, tujuan kuliah, selepas kuliah mau ngapain, apa yang disuka dan ga disuka, siapa orang yang disuka atau sekedar dikagumi, dan hal-hal penting maupun sepele lainnya.
Entahlah. Saat sore ini ada yang tiba-tiba nanya materi kuliah besok apa hanya untuk pamit pergi seminggu, tetiba rasanya sedih banget. Padahal sepele banget kan, biasanya juga ketemu cuma berapa kali seminggu di kampus, harusnya ga ketemu seminggu juga biasa aja. Tapi ini engga, tadi rasanya mau nangis haha.. Alay banget dah.

Dan saat sore ini tiba-tiba kangen juga sama yang satunya, tapi kayaknya lagi sibuk, padahal kemaren ngechat “Dimana?” yang artinya kode mau ngajak makan bareng—kayaknya...—tapi saya gabisa. Gimana ntar kalo dia udah lulus trus ga di Jogja lagi? He... Kayaknya dia selesai pendadaran, saya yang nangis deh hahaha...

Entahlah, sepertinya mereka udah menempati salah satu tempat di hati saya sebagai orang yang penting. Entahlah, mungkin saya aja yang ngerasa gini—udah biasa bertepuk sebelah tangan bahkan untuk sekedar status teman dekat—karena saya masih punya sisi baper, atau mereka juga ngerasa hal yang sama. Saya ga peduli lagi sama hal-hal seperti itu. Yang jelas, saya sampai pada satu kesimpulan,

Ada kok, perempuan yang mau percaya dan sayang sama saya, selain mama dan adik saya.

Dan saya melakukan re-definisi terhadap konsep persahabatan dalam otak saya.

Sahabat adalah ia yang mengingatkanmu dikala kamu berpaling dariNya. Sahabat bukanlah orang yang selalu bersamamu, tapi bisa bersamamu saat kamu sedih maupun senang secara langsung maupun tidak langsung. Sahabat adalah ia yang mau berbagi kekonyolan denganmu. Sahabat adalah ia yang mau membicarakan hal-hal sepele seperti hari ini makan apa sampai memaknai hidup itu untuk apa. Menjadi pengingat akan kasih sayangNya dan menjadi perantara untuk kamu agar selalu mengingatNya.

Kalo dari definisi di atas, rasa-rasanya banyak orang yang bisa saya labeli sebagai sahabat, perempuan maupun laki-laki (trus kepikiran satu nama) haha.. Tapi kali ini saya memang hanya ingin membahas dua orang itu saja. Karena saya lagi kangen sama mereka :’)

Semoga Allah selalu bersama kalian, selalu memudahkan urusan kalian, dan selalu memberi kalian kesehatan fisik, pikiran, dan hati. Semangat! :’)

salam,

anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar