13.3.17

Architect of Mind

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Pernah nggak sih, kita nyalahin keadaan atas apa yang terjadi dalam hidup kita? Ketika keadaan yang terjadi dan ada di depan mata bukanlah seperti yang kita harapkan, mungkin seringkali kita menyalahi keadaannya. Atau mungkin menyalahkan diri sendiri. Atau mungkin menyalahkan orang lain. Atau jangan-jangan kita menyalahkan Tuhan?

Astaghfirullah.. 
Hmm, sebenernya pertanyaan di atas lebih saya tujukan ke diri saya sendiri. Dan jawaban untuk semua pertanyaan itu adalah pernah.  Saya pernah menyalahkan keadaan atas apa yang saya alami, yang tidak sesuai harapan. Saya pernah menyalahkan orang lain juga, dan saya sering sekali menyalahkan diri saya sendiri. Bahkan mungkin sampai sekarang, saya masih suka nyalahin diri sendiri. Kadang-kadang. Tidak sesering dulu.

Satu yang paling takut saya lakukan adalah, tanpa sadar saya menyalahkan Allah atas apa yang terjadi dalam hidup saya, yang jauh dari harapan dan ekspektasi saya.

Sejak saat itu saya sering merenung sendiri, kalau sedang jalan pulang kuliah, atau sedang makan sendiri, atau sedang nganggur sendiri, pokoknya kalo lagi sendiri dan tiba-tiba kepikiran untuk mikirin hal ini. Kok bisa sih, kita saling menyalahkan? Ntah menyalahkan keadaan yang sebenernya terjadi atas kehendak Allah, ntah menyalahkan orang lain yang mungkin bahkan gatau apa-apa, ntah akhirnya menyalahkan diri sendiri karena merasa keputusan yang dibuat, pilihan yang diambil, dan segala hal yang dilakukan menjadi penyebab ketidaksesuaian realita dengan harapan.

Semakin kesini saya semakin menemukan jawabannya. Kuliah di psikologi emang selain dapat ilmu buat diterapkan di kehidupan sehari—hari, ternyata juga sarana saya (dan mungkin banyak orang) untuk “berobat jalan” atau sekedar sarana mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan dalam hidup.

Di kelas, seringkali dikatakan bahwa pikiran dapat memengaruhi perilaku, dan kadang kala perilaku juga dapat memengaruhi pikiran. Untuk tulisan kali ini, saya ingin lebih membahas tentang pikiran yang dapat memengaruhi perilaku, menurut pandangan saya pribadi.

Bagi saya, pikiran itu seperti sebuah bangunan. Konstruksi. Pikiran dibangun dari pengalaman, asumsi, harapan, dan pengetahuan. Dari yang sedikit-sedikit, kemudian bertambang seiring kita beranjak dewasa, menggabungkan pengalaman dengan pengetahuan yang ada, menjadikannya sebuah konstruksi pikiran dalam diri kita.

Kekecewaan akan realita yang tidak sesuai dengan harapan adalah hasil dari konstruksi pikiran yang sudah dibangun sejak kita menaruh harapan. Misalnya saya, waktu saya mau masuk SMA, saya sempat mencoba lewat jalur prestasi. Dengan modal yakin dan mungkin sedikit kenekatan karena gamau ikut tes-tesan masuk SMA, saya daftar dengan satu-satunya prestasi yang saya banggakan saat itu, computer skill. Ceritanya saya udah dapet sertifikat internasional di bidang itu. Saya membangun pikiran bahwa sertifikal level internasional bisa lebih unggul dibanding lomba-lomba kota, kabupaten, ataupun nasional. Sehingga, dengan pikiran itu, harapan saya akan lolos seleksi JAPRES semakin besar. Ditambah ketika hari seleksi hanya saya sendirilah yang diuji di bidang tersebut. Saat itu kepercayaan diri saya luar biasa besarnya. Yakin bakal keterima, dan melambungkan harapan-harapan lainnya.

Hari pengumuman tiba. Surat keputusan saya terima. Saat saya buka, disana tertulis,

TIDAK DITERIMA

Dengan font yang di bold dan lebih besar dibandingkan isi surat lainnya, tulisan itu hadir. Apa yang saya rasakan? Otomatis saya kecewa. Berat. Bahkan dada rasanya sesak sekali. Rasanya ingin membakar kertas itu. Tapi apa yang saya lakukan saat itu?

Saya kembali membangun pikiran saya, konstruksi ulang. Saya ubah tulisan itu menjadi,

TIDAK BELUM DITERIMA

Ada bedanya?
Jelas ada bagi saya. Saat ia masih bertuliskan TIDAK, hati dan pikiran saya berkecamuk, membatin, “Ah, masa iya gaada kesempatan lagi. Kenapa pake tidak? Kenapa gapake belum aja? Kan masih ada tes tulis.”

Maka pada akhirnya saya coret tulisan itu dan saya ubah. Saya mengkonstruk ulang pikiran saya, bahwa sebenarnya masih ada harapan, jika saya mau kembali berjuang dan melanjutkan hidup. Saya mengkonstruksi ulang pikiran saya, bahwa selama kesempatan benar-benar tertutup, tidak ada yang tidak mungkin, apalagi ada Allah.

Apalagi ada Allah...

Itu yang sering kita lupakan. Sering kita lupa bahwa bergantung hanya pada Allah, berharap hanya pada Allah, dan yakin bahwa apa yang terjadi adalah pemberian yang terbaik dari Allah. Ketika itu tidak sesuai harapan kita, pakailah rasionalisasi, timbulkan berbagai alasan yang bisa membuatmu berlapang. Mungkin Allah tau kalo saya berada di sana, saya tidak bisa berkembang. Mungkin Allah tau tempat yang lebih baik dan lebih efektif untuk membuat saya semakin dewasa, berkembang, dan berprestasi. Dan mungkin-mungkin yang lainnya.

Sama untuk setiap masalah. Masalah pertemanan misalnya. Mungkin saya kecewa pada teman saya karena saya terlalu percaya padanya, padahal percaya yang tertinggi hanya pada ketentuan Allah. Mungkin dengan jauhnya teman-teman dari saya, saya diminta untuk kembali berdua dan bermesraan hanya pada Allah. Mungkin saya diberitahukan keburukannya karena Allah ingin mengingatkan dan menjaga saya dari keburukan-keburukan manusia. Dan mungkin-mungkin lainnya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” 
(QS. Al-Baqarah: 216)

Selama kita percaya pada takdir Allah, dan yakin bahwa apa yang Allah berikan adalah yang terbaik, insyaa Allah hati kita akan lebih lapang dan menerima. Anggap saja ujian naik tingkat. Dan ujian itu ga melulu dalam bentuk kesedihan maupun kesusahan. Kebahagiaan, kesehatan, dan kekayaan pun ujian. Apakah dengan kehidupan yang sangat nyaman, kita semakin bersyukur atau justru semakin jauh dari Allah?

Gitu sih... Itu teori saya berdasarkan pengalaman. Dari pengalaman nyari sekolah-dapet sekolah, pengalaman ga punya temen sampe punya temen yang baik banget, dari pengalaman cinta bertepuk sebelah tangan sampe cinta berbalas tapi berakhir dengan sakit hati (ini curcol hahahaha), dan pengalaman hidup lainnya.

Setiap orang punya pengalaman masing-masing. Punya prinsip masing-masing. Perilaku kita, reaksi kita akan apa yang ada di depan mata tergantung dari bagaimana kita mengkonstruksi pikiran kita. Karena stimulus itu netral, kita sendirilah yang membuatnya menjadi positif atau negatif.

Be an architect for your mind. Dan berbahagialah, bersyukurlah, karena mungkin banyak orang yang sebenarnya ingin ada di posisi kita :)

“...mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” 
(QS. An-Nisaa’: 19)

salam,

anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar