18.3.16

Dibalik Makna Menuntut Ilmu

Bismillah..

Ada hal menarik yang saya dapatkan ketika mengikuti diskusi—Kajian Kamis Manis—dari departemen Syi’ar Keluarga Muslim Psikologi. Ini memang bukan kali pertama KMP mengadakan kajian. Namun, ini pertama kalinya departemen Syi’ar mengadakan kajian yang sebenarnya terbuka untuk umum, tapi ya qadarullah yang datang alhamdulillah ada 10-12 orang. Singkatnya, saya mau share sesuatu yang saya dapatkan dan menurut saya itu bermanfaat, sangat bermanfaat bagi para pencari Ilmu.

Inti dari kajian kali ini tentang Ilmu.

Ada makna lain yang terdapat dibalik kata Thalabul ‘Ilmy, atau menuntut ilmu. Bahwa ternyata, kita para pencari dan para penuntut ilmu sejatinya bukan hanya mencari ilmu dengan makna harfiah. Kita harus tahu, apa yang kita cari, ilmu apa yang mau kita ‘tuntut’, dan sejatinya, jika benar-benar serius menuntut ilmu, kita akan mencari ilmu yang kita tuju tidak hanya di satu tempat. Jika kita tidak menemukan apa yang kita cari, kita akan menelusuri tempat lain untuk mendapatkannya.

Realitanya saat ini adalah...

Para penuntut ilmu—dalam lingkungan saya saat ini adalah mahasiswa—hanya sekedar duduk di kelas, mendengarkan materi kuliah yang disampaikan oleh dosen, lantas ketika selesai, ya sudah. Selesai sampai disitu. Jarang ada kemauan untuk mencari hal yang lebih. Bahkan, mahasiswa saat ini membaca jurnal-jurnal penelitian yang berkaitan dengan keilmuannya hanya ketika ada tugas. Akan terlihat aneh bagi mereka yang memiliki hobi membaca jurnal. Atau, akan timbul pertanyaan seperti, “Tugas apa?”. Dan ketika jawabannya adalah “Bukan tugas, cuma mau baca aja..” Pandangan aneh pun ia terima.

Ada lagi yang mengusik hati saya ketika disampaikan bahwa, salah satu bukti kita serius dalam menuntut ilmu adalah tidak menjadikan ilmu itu—maupun aspek-aspek yang berkaitan dengan ilmu seperti buku pelajaran, proses pembelajaran, dan guru/dosen—sebagai bahan candaan.

Maksudnya apa?

Hmmm, pertama dalam hal konten. Kalo kemarin contohnya terkait ilmu agama sih. Kayak percakapan berikut:

“Eh, yuk sholat, udah adzan..”
“Ntar dulu, makan dulu aja, sholat kan nomor dua.”
“Hah? Kok gitu?”
“Iya, kan nomor satunya syahadat.. Hahaha”

Gitu. Jadi, meskipun itu candaan, sebenernya candaan yan seperti ini dapat mengurangi keberkahan ilmu kita. Dalam contoh berarti akan berkurang keberkahan ilmu agama kita karena kita membuat candaan terkait agama.

Ada lagi, yaitu ngegosipin dosen. Akan berkurang keberkahan ilmu yang kita dapat ketika kita ngomongin kejelekan dosen. Kalo kemarin dikasih pilihannya gini, kalo kamu gasuka sama seorang dosen/guru hanya ada 2 pilihan: 1) Berlapang dada terhadapnya atau 2) Menemuinya langsung dan membicarakan langsung ketidaksukaan kita atau ketidaknyamanan kita terhadap cara/perilaku mengajarnya. Tidak ada pilihan ketiga untuk itu. Tidak ada pilihan mengeluhkan dosen ke teman apalagi di media sosial. Kenapa? Karena itu akan mengurangi keberkahan ilmu. Karena itu membuktikann bahwa kita tidak menghargai dosen/guru kita. Dan ketika kita tidak bisa menghargai mereka, gimana mau berkah ilmu yang mereka berikan pada kita?

Setelah mendengar itu saya memikirkan beberapa hal. Salah satunya nilai saya yang turun di semester lalu. Saya menyadari, ada beberapa perilaku yang mungkin dosen tidak peduli jika kita melakukan itu saat proses pembelajaran, tapi Allah peduli. Salah satunya, memaikan atau membuka gadget saat proses pembelajaran berlangsung.

Ketika saya flashback, saya ingat teman-teman saya yang mendapatkan nilai wah.. bagus-bagus. Pemahaman mereka akan ilmu itu pun tidak usah diragukan lagi. Dan orang-orang ini ternyata memang orang-orang yang benar-benar memerhatikan guru di kelas. Tidak main hape, apalagi ngobrol sendiri, pun tidur di kelas rasanya tidak pernah saya melihat mereka seperti itu. Maka saya pun ber-istighfar. Mungkin memang tanpa sadar perilaku kita di kelas itu menyebabkan hilangnya keberkahan ilmu itu.

“Ilmu yang berkah itu tergantung pada akhlaq dan adab kita terhadap ilmu, baik akhlaq dan adab kepada Allah, guru/dosen/pengajar, proses pembelajaran, dan penghargaan kita terhadap ilmu itu sendiri”

Maka, jika kita merasa kita sudah menguasai sebuah ilmu, hati-hati... Bisa saja itu hanya kesombongan kita. Karena rasa “sudah menguasai” ini akan mendekatkan kita pada sikap meremehkan pengajar maupun proses pembelajaran, dan menjauhkan kita dari kelapangan hati untuk menerima ilmu. Sehingga, keberkahan ilmu itu tidak bisa kita dapatkan.

Satu lagi, berkah atau tidaknya ilmu yang kita peroleh dapat dilihat dari ibadah kita. Ilmu yang diridhoi dan diberkahi oleh Allah akan diikuti dengan semakin dekat dan semakin tumbuh rasa cinta kita kepada Allah, kepada Dia yang Maha Mengetahui.

Jika ilmu yang kita dapatkan justru membuat kita jauh dariNya, maka, kita patut bercermin dan bertanya, “Sudah layakkah aku mendapatkan dan menguasai ilmu ini?”

Wallahu’alam, hanya Allah yang tahu siapa yang berhak mendapatkan keberkahan ilmu. Karena ilmu itu seperti hidayah. Akan Allah berikan pada siapa yang Ia kehendaki. Tugas kita hanyalah, berusaha mendapatkan perhatianNya agar Dia mau memberikan berkah dan ridhonya pada ilmu kita dengan cara terus menjaga adab-adab dan akhlaq kita terhadap ilmu dan segala yang berkaitan dengan ilmu—proses pembelajaran, guru/dosen, dan kelapangan hati.

salam,

anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar