26.3.16

Cinta dan Masalahnya..

Bismillah..

Ketika sudah (hampir bisa) move up dan terlepas dari permasalahan ini, eh.. ternyata memang diujinya ga jauh-jauh dari masalah ini. Masalah apa? Masalah hati, penyakit hati yang sering sekali memakan banyak korban—termasuk saya.

Kalo di pelajaran biologi, katanya, hati itu yang menyaring racun-racun yang ada di dalam tubuh. Mungkin “hati” yang ini pun begitu. Seharusnya, dia bisa menyaring hal-hal yang buruk agar tidak mengendap di dalam tubuhnya. Seperti... Virus Merah Jambu. Virus Pink. Virus Cinta.

Perasaan itu fitrah memang, tapi yang namanya fitrah bukannya suci dan tidak membahayakan? Lantas kenapa bisa jadi virus? Bahkan penyakit? Ya, bisa jadi karena setan sudah bermain di dalamnya untuk mengotori kesucian dari fitrah itu.

Tidak dipungkiri, setiap orang pasti pernah merasakan “perasaan khusus” ini, ke lawan jenisnya. Ya mungkin ada beberapa yang belum seperti salah seorang teman saya yang ga ngerti gimana rasanya suka sama orang dan ngertinya rasa suka ke anime.. Saya pun pernah terjebak di dalamnya, tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali. Sampai banyak teguran yang didapat, banyak peringatan yang diterima, dari lingkungan bahkan dari Allah. 

Perasaan itu fitrah memang. Dan diperlukan kesabaran tingkat tinggi untuk menjaga kesucian fitrah itu. Bukan dengan mengungkapkan, bukan dengan menyebar-nyebarkan, bukan pula dengan memuaskan hal itu dengan perilaku ketika belum ada ikatan halal di dalamnya. Normatif memang perkataan saya ini. Mungkin banyak orang akan mencibir dengan bilang, “Aah sok tau.” atau “Apa sih, sok suci” atau “Kayak ga pernah ngerasain aja” atau “Omdo, situ juga bisa ngejaga ga?”

Ya oke, menjaga itu memang sulit, saya akui. Sulit sekali, apalagi ketika rasa itu sedang membuncah dan bergejolak begitu hebatnya. Rasanya ingin selalu bersama dia, ingin selalu bertemu dengan dia, ingin terlibat dalam segala urusan yang ada dia nya, atau seminimal-minimalnya tren saat ini, ingin selalu chatting an dengan si dia.

Pernah ngerasain?

Oh jelas pernah. Dulu sering banget. Saya termasuk orang yang paling susah ngejaga dan nahan perasaan saya. Ekspresif. Kalo ga ke temen deket ya minimal ke keluarga. Dan yang bahaya, ketika perasaan itu membuncah dan bergejolak, si dia datang menghampiri dan membuka lebar-lebar tangan dan pintu hatinya untuk menyambut kita. Saya yakin, jarang sekali ada yang bisa menolak saat-saat “terindah” itu kecuali ia memiliki ketaqwaan yang tinggi terhadap Allah—bagi seorang muslim khususnya. Karena, yah taulah ya, sebelum nikah atau sebelum jadi halal, Allah memerintahkan kita untuk menjaga hati dan menjauhi zina. Dan zina, jangan diartikan kalo tidak melakukan hubungan intim itu tidak zina. Karena zina pun ada jenisnya... dan ini yang memerlukan usaha ekstra keras untuk menjaga diri.

Zina mata, zina telinga, zina mulut, zina hati.... dan ya.. bisa dicari lah ya jenis-jenis zina kecil yang bisa mendekatkan ke zina besar.. Berat kalo bahas zina. Saya pun belum berkapasitas untuk menjelaskan hal ini. Saya hanya pernah diingatkan kalo semua ini bisa mengarah ke zina besar. Dan yang paling rawan adalah zina hati, ketika kita beragan-angan untuk bertemu dengannya, menghabiskan waktu dengannya, atau apalah, padahal dia belum halal untuk kita. Astaghfirullah..

Saya mungkin juga masih belum terlepas dari itu, tapi, ini hanya ingin kembali mengingatkan, karena kemarin habis dapet cerita dari seorang teman yang katanya sampai sakit fisik gara-gara disakitin sama seorang cowo yang udah berani bilang mau serius tapi entah gimana dia menyakiti teman saya itu. Kata teman saya,

“Aktivis dakwah juga harus diwaspadai ya za walaupun dia bilang kata-kata yang seserius itu.”

Iya... emang... justru yang rawan kena kaya gituan malah yang mengaku dirinya ‘aktivis dakwah’ haha.. duh.. bukan kamu doang kok yang ngerasain... saya... juga pernah *malah curhat*

Bahkan saya pernah dapet cerita dari seorang mbak—dan kayaknya udah pernah saya posting ceritanya—ada seorang temennya yang udah H-7 hari pernikahan, tiba-tiba batal... dan yang ngebatalin pihak laki-lakinya... itu... sakitnya kayak apa coba?

Jadi, sebelum akad itu terucap, apapun bisa terjadi. Udah, intinya mah itu. Sama terakhir saya mau bilang,

Wahai perempuan, jika ada laki-laki yang membuatmu merasa dia peduli padamu, memerhatikan kamu, nanya ke kamu terus meski ada orang lain yang bisa dia tanyain, suka ikut-ikutan kegiatan yang kamu ikutin juga, suka ngelike foto atau apapun yang ada di medsosmu, suka ngechat kamu terus-terusan, dan apapun yang membuatmu berpikir dia suka sama kamu.. Cobalah diabaikan, jangan dibawa perasaan, jangan dibawa hati, jangan semudah itu kamu ‘jatuh’, dan jika kamu sudah terlanjur ‘jatuh’, minta sama Allah biar selalu menjaga hati kamu, menjaga niat kamu, dan menjagamu lahir batin dari segala tipu daya setan yang akan terus merayu kamu lewat celah-celah hatimu yang telah ‘jatuh’. Dan bantulah para lelaki untuk menjaga hatinya juga dari perilakumu—yang walaupun kamu tidak berniat untuk menarik hatinya dengan perilakumu.

Wahai laki-laki, saya gatau mau ngomong apa lagi ke laki-laki. Hanya bisa bilang, bantu kami menjaga hati dan kami pun akan membantu menjaga hatimu pula. Cobalah kenali perempuan juga, karena perempuan itu macam-macam. Ada yang dibaikin dikit udah baper trus jadi suka, ada yang bisa baper ketika kamu mendekatinya terus-menerus, ada pula yang bodo amat kamu mau gimana ke dia. Kenali perempuan bukan untuk malah bikin dia baper, justru biar kamu tau harus bersikap gimana ke perempuan tipe A, tipe B, tipe C, dan tipe-tipe lainnya. Maafin kalo perempuan itu susah dimengerti dan maafin sampe ada ungkapan perempuan selalu benar dan laki-laki selalu salah. Saya gatau itu siapa yang bikin, karena.. ya ga gitu juga kali. Ya, saling bantu lah ya.. Jangan sampai karena kamu, kami terjerumus dan semoga kamipun tidak membuatmu terjerumus dalam perangkap-perangkap licik setan.

Udah itu aja. Cinta itu memang fitrah, makanya jangan dikotorin dengan hal-hal yang dapat mengotorinya. Lampiaskan cintamu untuk lingkungan, untuk keluarga, untuk ilmu, dan cinta sejati itu hanyalah Allah. Karena hanya Allah yang setia dan gaakan ninggalin kita.

Semoga jadi pengingat kita, khususnya untuk saya sendiri dengan berbagai masa lalu yang.. #AhSudahlah

salam,

anisanza

...itulah kenapa, bercerita kepada
orang yang pernah merasakan hal yang sama
menghadirkan pengertian yang lebih tulus,
lebih dalam, dan tanpa ego 'kesoktauan'...

1 komentar: