15.2.16

Teman Perempuan dan Teman Laki-Laki

Bismillah..

Pernah suatu hari ada seorang teman bercerita pada saya. Dia perempuan. Katanya, dia lebih senang berteman dengan laki-laki. Entah mengapa dan entah sejak kapan. Kalau berteman dengan perempuan, ada rasa was-was dalam dirinya, meski saling bercerita maupun berbagi, rasanya tidak seleluasa ketika ia bercerita dengan teman laki-lakinya. Oleh karena itu, dia dekat dengan banyak laki-laki, hanya sebatas teman. Tapi ada hal yang dia tanyakan pada saya.

Kenapa teman-teman perempuannya yang mayoritas tergabung dalam organisasi rohis atau dakwah sekolah atau dakwah kampus kadang suka memandang aneh ke dirinya yang dekat dengan laki-laki?

Kenapa dia sering mendapat banyak teguran, semacam jaga interaksi, jaga batas dan sebagainya? Padahal katanya, dia pun mengerti akan hal itu.

Saya pun bertanya padanya sebagai seorang yang pernah diajarkan bahwa pengalaman masa lalu bisa berdampak pada seseorang dimasa kini. Pertanyaan dasar menurut saya, kenapa ada rasa was-was ketika dengan teman perempuan? Bukannya malah lebih leluasa (seharusnya) ketika berbagi dengan sesama perempuan yang notabene bisa saling memahami sudut pandang sebagai sesama perempuan?

11.2.16

The True Problem

Bismillah..

Ada 4 kata yang sangat ditekankan oleh dosen saya saat membuka dan memberi pengantar pada salah satu mata kuliah. Find The True Problem. Kenapa kata-kata ini sangat beliau tekankan? Ceritanya bermula dari mata kuliah yang bernama Intevensi Psikologi.

Intervensi, campur tangan, ikut-ikutannya seseorang terhadap sesuatu. Dosen saya membuka dengan kasus yang sedang hangat-hangatnya dan belum ada habisnya diberitakan di Indonesia, yaitu kasus Kopi Sianida dimana kepolisian telah menunjuk J sebagai tersangka. Disitu beliau bercerita, bagaimana dalam kasus ini banyak sekali “pertarungan” antar psikolog yang ditunjuk sebagai saksi ahli. Di satu sisi, kepolisian menggunakan psikolog untuk menguatkan bukti bahwa J itu tersangka, dan disisi lain pengacara tersangka melawan dengan menyatakan bahwa ia bisa membawa berpuluh-puluh psikolog untuk membuktikan bahwa J bukan tersangka.

Satu poin yang beliau tekankan disini. Kenapa psikolog seolah digunakan sebagai “alat” yang dibayar untuk memuaskan tujuan pihak tertentu?