18.12.16

Untuk yang (akan) Berlalu

Bismillahirrahmaanirrahiim..

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Ahzab: 72-73)

Amanah.
Sebuah kata biasa bermakna dalam. Mungkin, bagi beberapa orang. Karena tidak jarang kita temukan banyak orang yang menyepelekan kata tersebut.

Amanah.
Saya tidak habis pikir kepada orang-orang yang menggebu-gebu berebut jabatan dan kekuasaan. Apa untungnya? Ah, ya... popularitas mungkin, atau rasa segan orang lain terhadap dirinya. Lantas apa? Jika semua kekuasaan itu menjadikan ia orang yang sombong, otoriter, egois, dan tidak bisa memahami orang lan.

Amanah.
Saya baru benar-benar merasakan beratnya kata tersebut ketika saya menyelami maknanya lebih dalam. Bahkan dalam Al-Qur’an, langit, bumi, dan gunung-gunung enggan mengemban amanah karena takut mengkhianatinya. Maka pada akhirnya, Allah menjadikan manusia sebagai pengemban amanah di bumi sebagai seorang khilafah.

Amanah.
Apa yang menjadikannya berat? Bagi saya, amanah sangat berat karena pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia, tapi di akhirat. Langsung kepada Sang Pemberi Amanah.

--------------------------

19.11.16

Benih Tertuai dari Psikologi

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Pikiran itu seperti kebun yang bisa menumbuhkan benih-benih ide dari berbagai stimulus yang manusia dapatkan. Ketika banyak benih yang ditanam dan tumbuh bersamaan, terkadang manusia menjadi bingung, bibit mana yang harus ia panen terlebih dahulu menjadi sebuah paragraf demi paragraf.

Beberapa waktu lalu, saya mengalami hal itu. Bukan beberapa waktu sih, sejak saya masuk psikologi lebih tepatnya. Banyak bibit-bibit tertanam dalam pikiran saya dan mereka tumbuh bersamaan sampai saya bingung mana yang harus saya tuai terlebih dahulu.

Pada akhirnya, semalam, saya memutuskan untuk menuai bibit ini. Dalam postingan ini, saya ingin membagi suatu hal yang cukup membuat saya tertegun. Terlebih karena saya belajar psikologi.

Mungkin bagi sebagian besar orang, stigma-stigma atau labelling yang diberikan kepada siapapun yang mempelajari, terutama yang berkuliah di jurusan Psikologi tidak jauh dari kami adalah seorang peramal, pembaca pikiran, serba tahu, serba bisa memberi solusi, dan lain sebagainya.

Nyatanya, tidak.

15.11.16

Lingkaran Cahaya

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Lingkaran Cahaya.

Mungkin tidak semua orang dapat menemukan makna dibalik sepenggal frase itu. Bagiku, lingkaran cahaya adalah sebuah frase yang memiliki makna dalam dan sangat berarti dalam hidup ini.

Bagaimana bisa?

Disinilah aku terjebak. Terjebak dalam kebaikan. Sedikit demi sedikit cipratan kebaikan itu mengenaiku. Bahkan ketika aku belum mengenal arti kebaikan yang sesungguhnya. Yah, walaupun saat ini pun aku masih berusaha mengerti. Tapi, cipratan cahaya itu menuntunku. Ke lubang yang lebih dalam, lebih jauh, menuju lingkaran cahaya.

Bagaimana bisa ia menjadi cahaya?

Tentu bisa. Di dalamnya berisi orang-orang yang penuh tekad memperjuangkan kebaikan. Memperjuangkan apa yang disebut dengan dakwah. Secara pribadi maupun secara umum. Lingkaran cahaya ini adalah partikel terkecil dari seluruh langkah para pembawa cahaya. Cahaya kebaikan.

30.8.16

Antara Lembaga dan Keluarga...

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Setelah sekian lama menyiapkan tulisan-tulisan yang ingin di post disini, pada akhirnya saya mendahulukan postingan ini yang sudah tak tertahankan lagi untuk diucapkan.

Sebagai pembuka, setiap organisasi memiliki perangkat organisasinya sendiri. Entah itu Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, stuktur kepengurusan, anggota, program kerja, dan bahkan pemimpin organisasi itu sebagai perangkat penting yang tak bisa dikecualikan.

Adalah hal yang unik—menurut saya—seumur hidup saya menceburkan diri dan menyelami dunia keorganisasian sejak SMA, ketika saya menemukan sebuah organisasi yang memiliki 3 Ketua yang berbeda. Bukan, bukan 1 organisasi yang memiliki beberapa ketua. Kalo itu sih, OSIS di SMA saya juga punya 3 ketua dengan fungsi berbeda. Tapi ini 3 ketua dalam 1 lembaga yang memiliki 2 badan semi otonom sendiri.

26.3.16

Cinta dan Masalahnya..

Bismillah..

Ketika sudah (hampir bisa) move up dan terlepas dari permasalahan ini, eh.. ternyata memang diujinya ga jauh-jauh dari masalah ini. Masalah apa? Masalah hati, penyakit hati yang sering sekali memakan banyak korban—termasuk saya.

Kalo di pelajaran biologi, katanya, hati itu yang menyaring racun-racun yang ada di dalam tubuh. Mungkin “hati” yang ini pun begitu. Seharusnya, dia bisa menyaring hal-hal yang buruk agar tidak mengendap di dalam tubuhnya. Seperti... Virus Merah Jambu. Virus Pink. Virus Cinta.

Perasaan itu fitrah memang, tapi yang namanya fitrah bukannya suci dan tidak membahayakan? Lantas kenapa bisa jadi virus? Bahkan penyakit? Ya, bisa jadi karena setan sudah bermain di dalamnya untuk mengotori kesucian dari fitrah itu.

Tidak dipungkiri, setiap orang pasti pernah merasakan “perasaan khusus” ini, ke lawan jenisnya. Ya mungkin ada beberapa yang belum seperti salah seorang teman saya yang ga ngerti gimana rasanya suka sama orang dan ngertinya rasa suka ke anime.. Saya pun pernah terjebak di dalamnya, tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali. Sampai banyak teguran yang didapat, banyak peringatan yang diterima, dari lingkungan bahkan dari Allah. 

18.3.16

Dibalik Makna Menuntut Ilmu

Bismillah..

Ada hal menarik yang saya dapatkan ketika mengikuti diskusi—Kajian Kamis Manis—dari departemen Syi’ar Keluarga Muslim Psikologi. Ini memang bukan kali pertama KMP mengadakan kajian. Namun, ini pertama kalinya departemen Syi’ar mengadakan kajian yang sebenarnya terbuka untuk umum, tapi ya qadarullah yang datang alhamdulillah ada 10-12 orang. Singkatnya, saya mau share sesuatu yang saya dapatkan dan menurut saya itu bermanfaat, sangat bermanfaat bagi para pencari Ilmu.

Inti dari kajian kali ini tentang Ilmu.

Ada makna lain yang terdapat dibalik kata Thalabul ‘Ilmy, atau menuntut ilmu. Bahwa ternyata, kita para pencari dan para penuntut ilmu sejatinya bukan hanya mencari ilmu dengan makna harfiah. Kita harus tahu, apa yang kita cari, ilmu apa yang mau kita ‘tuntut’, dan sejatinya, jika benar-benar serius menuntut ilmu, kita akan mencari ilmu yang kita tuju tidak hanya di satu tempat. Jika kita tidak menemukan apa yang kita cari, kita akan menelusuri tempat lain untuk mendapatkannya.

Realitanya saat ini adalah...

15.2.16

Teman Perempuan dan Teman Laki-Laki

Bismillah..

Pernah suatu hari ada seorang teman bercerita pada saya. Dia perempuan. Katanya, dia lebih senang berteman dengan laki-laki. Entah mengapa dan entah sejak kapan. Kalau berteman dengan perempuan, ada rasa was-was dalam dirinya, meski saling bercerita maupun berbagi, rasanya tidak seleluasa ketika ia bercerita dengan teman laki-lakinya. Oleh karena itu, dia dekat dengan banyak laki-laki, hanya sebatas teman. Tapi ada hal yang dia tanyakan pada saya.

Kenapa teman-teman perempuannya yang mayoritas tergabung dalam organisasi rohis atau dakwah sekolah atau dakwah kampus kadang suka memandang aneh ke dirinya yang dekat dengan laki-laki?

Kenapa dia sering mendapat banyak teguran, semacam jaga interaksi, jaga batas dan sebagainya? Padahal katanya, dia pun mengerti akan hal itu.

Saya pun bertanya padanya sebagai seorang yang pernah diajarkan bahwa pengalaman masa lalu bisa berdampak pada seseorang dimasa kini. Pertanyaan dasar menurut saya, kenapa ada rasa was-was ketika dengan teman perempuan? Bukannya malah lebih leluasa (seharusnya) ketika berbagi dengan sesama perempuan yang notabene bisa saling memahami sudut pandang sebagai sesama perempuan?

11.2.16

The True Problem

Bismillah..

Ada 4 kata yang sangat ditekankan oleh dosen saya saat membuka dan memberi pengantar pada salah satu mata kuliah. Find The True Problem. Kenapa kata-kata ini sangat beliau tekankan? Ceritanya bermula dari mata kuliah yang bernama Intevensi Psikologi.

Intervensi, campur tangan, ikut-ikutannya seseorang terhadap sesuatu. Dosen saya membuka dengan kasus yang sedang hangat-hangatnya dan belum ada habisnya diberitakan di Indonesia, yaitu kasus Kopi Sianida dimana kepolisian telah menunjuk J sebagai tersangka. Disitu beliau bercerita, bagaimana dalam kasus ini banyak sekali “pertarungan” antar psikolog yang ditunjuk sebagai saksi ahli. Di satu sisi, kepolisian menggunakan psikolog untuk menguatkan bukti bahwa J itu tersangka, dan disisi lain pengacara tersangka melawan dengan menyatakan bahwa ia bisa membawa berpuluh-puluh psikolog untuk membuktikan bahwa J bukan tersangka.

Satu poin yang beliau tekankan disini. Kenapa psikolog seolah digunakan sebagai “alat” yang dibayar untuk memuaskan tujuan pihak tertentu?