12.1.15

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana kau mengatakan aku ingin bahagia.  Ya, karena memang itulah sebabmu bahagia.  Jika kamu memberi syarat untuk bahagia, maka akan sulit bagimu untuk bahagia.  Karena syarat-syarat yang tak terpenuhi itulah yang membuatmu tidak bahagia.

Bahagia itu sederhana.
Mengapa tidak kau atur ulang kembali saja mindset mu?

"Aku bahagia hanya jika aku ingin bahagia."

Simpel.

Ketika kau ingin bahagia, maka kau akan bahagia dengan sendirinya, apapun yang terjadi bukan? Ya, karena semua berawal dari mindset, pola pikir, pikiran alam bawah sadarmu.

****

09 Januari 2015

Hari terakhir UAS Gasal.  Mengingat apa yang terjadi di hari sebelumnya, membuatku tak sabar untuk cepat-cepat besok saja.  Aku ingin pulang.  Sejenak melupakan apa yang terjadi di sini, kemarin.

Alhamdulillah, setidaknya hari ini aku masih bisa bertemu dengan seorang teman, sama-sama dari Bogor, dan yang lebih utama, sama-sama dari Smansa :)

Aku jemput dia di fakultasnya, sempet nyasar beberapa kali.  Bukan nyasar sih, kelewatan haha.. dan saat sampai di tempat, satu hal yang langsung bikin aku lupa akan apa yang terjadi semalam..

"ANZAAAAAAAAA!!!!!"

Ah, itu dia. Alya, dan Tania haha..  Rasanya sudah seperti pulang kalo ketemu makhluk-makhluk ini.  Sebenernya hari ini janjian di WS sama Alya, ngedate berdua gitu ceritanya.  Kukira Tania mau ikut, tapi dia ada perlu kayanya ya waktu itu.  Alhasil, aku sama Alya beneran nge date berdua di WS.

Beberapa hal yang aku simpulkan dari pertemuanku dengan Alya adalah pertama, merantau itu memang agak berat, apalagi ketika itu bukan zona nyaman kita.  Bersyukurlah ketika masih ada orang "sejenismu" yang bisa kau datangi untuk berbagi cerita.  Kedua, tidak hanya aku yang beranggapan bahwa Smansa itu emang sesuatu banget.  Ngurus acara di Smansa beda sama ngurus acara disini, jelaslah.  Tapi ada perbedaan mendasar yang aku temukan yaitu prinsip, perbedaan prinsip dan pola gerak yang masih sulit aku terima dan kumasukkan ke memori zona nyamanku sampai saat ini.  Ketiga..  Anak Smansa Bogor emang cuma bisa dimengerti sama anak Smansa Bogor.  Nggak selalu sih, cuma... kalo dimasukin ke kategori peer relationship, emang klop nya ya Smansa-Smansa, galur murni #eh #impian wkwkwk..

Ya, itu jadi syarat aku bahagia selama di Yogyakarta.  Bahagia jika kondisi disini sama dengan di Smansa.  Jelas itu membuatku sulit bahagia, kenapa?  Karena itu tadi, bersyarat.

10 Januari 2015

Pulang.  Ah.. aku bahagia.  Hari ini aku pulang.  Ya, ke Bogor jelas.  Mama, Papa, Adik, dan temen-temen "sejenisku".  Berharap segera bertemu mereka :')

Dari bandara Adisucipto, sudah diuji sama Allah.  Aku dan seorang temenku yang barengan pulang ke Bogor juga, Puti, sempet geger karena antrian check in tiket.  Ribut sama orang Medan.  Masalah sepele tapi yaa.. bagi kami yang tinggal 15 menit lagi boarding itu nggak sepele.  Masalah serobot antrian.  Sudahlah, aku malas membahasnya haha..

Sampai di Bandara Soetta alhamdulillah dengan selamat.  Sholat Dzuhur, dan nunggu bis damri yang ke Bogor.  Agak lama.  Alhamdulillah dapet setelah nunggu sekitar setengah jam.  Di telpon mama dan seorang sahabat, selalu ditanya sudah sampai mana?  Karena mama dan adik ku juga jemput aku di pool bis damri di botani.

Sampai Bogor, nyari mama, dan saat liat mama, rasanya itu... damai.. ahh :')




Satu hal yang membuatku bahagia hari ini, bertemu mereka..  Ya, dan itu menjadi syarat lagi supaya aku bahagia.  Bertemu mereka adalah syaratku untuk bahagia.  Bagaimana bisa aku bahagia selalu jika di rantau, di tempat dimana aku tidak bisa bertemu mereka?

****

Yang ingin aku sampaikan adalah, jangan berikan syarat eksternal untuk membuatmu bahagia.  Bahagia itu pilihan.  Hanya kita yang bisa memilih ingin bahagia atau tidak.  Jangan masukkan syarat-syarat eksternal.  Karena bisa jadi kau tidak menemukan syarat-syarat itu setiap saat.

Jangan berikan syarat untuk bahagia.

Simpel.  Katakanlah pada dirimu, bahwa

"Aku akan bahagia hanya jika aku ingin bahagia."

So? Jika kamu ingin bahagia, toh kamu akan bahagia dengan sendirinya bukan? Sedih, kecewa, marah dan segala emosi negatif itu memang manusiawi.  Namun, jangan memilih untuk berlarut-larut dalam emosi negatif itu.  Berbahagialah, dan beribadahlah dengan kebahagiaanmu itu :)

salam,
anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar