3.7.15

kembali dengan LGBT :)

Assalamu’alaikum, bloggers, selamat menjalankan ibadah bulan Ramadhan :)

Sebelumnya mohon maaf, blog ini sempat terlupakan haha.. nggak terlupakan juga sih, hanya bingung mau nulis apa. Kali ini, kepikiran untuk nulis sesuatu tentang isu yang lagi panas-panasnya (hampir) di seluruh dunia termasuk Indonesia. Soal apa?

Yap, LGBT—Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender.

Sebelum berlanjut, ada baiknya kita tau pengertian dari masing-masing istilah yang sudah tidak asing lagi diatas. Lesbian menurut KBBI artinya adalah wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual sesama jenisnya; wanita homoseks. Biseksual dalam KBBI berarti mempunyai sifat 2 jenis kelamin; tertarik kepada dua jenis kelamin baik kepada laki-laki maupun perempuan. Gay dan Transgender tidak memiliki definisi khusus dalam KBBI. Jika dalam kamus Oxford, gay memiliki arti homoseksual, yaitu penyuka sesama jenis, dalam hal ini istilah gay sering digunakan untuk menyebut laki-laki yang menyukai sejenisnya—karena kalo wanita namanya kan lesbian. Nah, kalo transgender itu pergantian gender, dimana seseorang yang (misalnya) terlahir sebagai perempuan merasa dirinya sebenarnya bukan perempuan, tapi laki-laki, dan membuatnya mengubah kelaminnya menjadi laki-laki.

Kurang lebih begitu ya untuk definisi singkatnya. Nah, sekarang apa masalahnya?

4.4.15

Renovasi Pikiran

Bismillahirrohmaanirrohim...

Beberapa hari ini, pikiran saya disibukan dengan berbagai hal.  Saking banyaknya, saya sampai bingung apa yang sebenarnya sedang saya pikirkan.  Apalagi ketika media mulai memberitakan hal-hal negatif yang sedang terjadi di dunia ini.  Mulai dari Indonesia sampai Arab Saudi.  Allahu Akbar.. Pemikiran saya berkelebat diseputar hal itu saja.  Namun rasanya, kepala ini berat sekali... Solusi belum ditemukan.  Apa saya harus pakai cara self-therapy? hehehe.. :)

Salah satu dari sekian banyak hal yang saya pikirkan adalah soal tujuan hidup, dunia-akhirat.  Woh, seram sekali rasanya hehe.. Tapi tidak, disini saya ingin sedikit berbagi beberapa hal yang mungkin bisa membuat kita kembali berpikir ulang.  Terutama kamu, iya kamu, para perempuan yang sholehah ^^

Saya bukan orang yang senang dengan keramaian, pun dengan lingkungan yang mengharuskan saya bekerja sama dengan banyak orang.  Kata banyak disini itu buat saya kisaran lebih dari 10 orang.  Kenapa? Entahlah, mungkin karena kepribadian saya memang seperti ini, lebih senang bekerja sama dengan sedikit orang saja.  Nanti kalau saya jelaskan malah tambah panjang..

Saya juga bukan orang yang suka berbicara di depan umum, kondisi dimana saya harus berbicara di depan forum yang berisi lebih dari 10 orang.  Tapi, saya sudah mulai belajar untuk itu, karena tuntutan hidup *ceilaah..*  Kenapa? Karena saya lebih suka berpikir *ini yang suka bikin saya pusing sendiri*, berpikir sendiri dan menceritakan ke satu-dua orang lebih mudah daripada mengutarakan ke banyak orang.  Kecuali saya mengutarakannya lewat tulisan :)

Saya juga bukan orang yang mudah meng-iya-kan suatu hal.  Mungkin negatifnya saya, terlalu banyak pertimbangan.  Ya nggak juga sih... Saya hanya suka dengan kejelasan.  Seperti misalkan ada sebuah acara yang akan diadakan, saya diajak, tentu akan saya tanyakan sedetail mungkin seperti acaranya isinya apa? urgensinya apa? dimana? dari kapan sampai kapan? yaaa seputar itu.  Mungkin banyak yang risih dengan sifat saya yang seperti itu, tapi daripada saya ikut-ikutan tanpa tau alasannya alias Taklid.

Sehingga, dari berbagai hal itu, saya kembali bertanya, "Tujuan kamu ada di UGM ngapain?"

29.3.15

Konsep Pendidikan - Ki Hadjar Dewantara

Bismillahirrohmaannirrohiim..

Pendidikan.  Salah satu ranah yang saat ini sedang mengalami pasang-surut di Indonesia.  Salah satu bagian dari Indonesia yang 'terlihat' kurang diperhatikan oleh warganya sendiri.  Pendidikan.  Salah satu topik yang menarik untuk dibahas, terutama oleh saya pribadi.

Saya mendapat ilmu baru dari sebuah forum diskusi kecil bersama teman-teman yang juga tertarik di bidang ini.  Suatu hari kami membicarakan soal konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara.  Salah satunya konsep Pendopo.

Mungkin terlebih dahulu saya perkenalkan apa itu pendopo.  Kurang lebih seperti ini,

diambil dari Google
Ya, terbuka, tidak ada pintu, jendela, bahkan tembok sekalipun.  Bagi Ki Hadjar, pendopo merupakan suatu tempat yang penting.  Dimana setiap orang bisa singgah disitu mungkin hanya untuk beristirahat melepas lelah.  Dulu, pendopo ini digunakan sebagai tempat mengajar beliau.  Dimana murid-murid beliau belajar disini dan para orang tua bisa ikut melihat proses pembelajarannya, bahkan mungkin sekaligus ikut belajar.  Juga, masyarakat sekitar pun bisa melihat proses pembelajaran yang ada.  Tidak ada yang tertutup.  Semua bisa belajar bersama.  Pendopo ini juga bisa menjadi tempat berinteraksi antar pengajar-murid-orang tua-masyarakat.  Konsep ini mahal, dan jarang kita lihat bangunan seperti ini bukan?

Satu hal yang bisa saya simpulkan, pendidikan kita sekarang lebih tertuju pada sekolah-sekolah yang bangunannya terdiri dari tembok tebal, tinggi, dan bahkan tertutup.  Orang tua ada yang tidak diizinkan ikut masuk memantau anaknya.  Ya, karena otoritas sudah ada di pihak sekolah.  Tapi, apa pihak sekolah capable dalam mengurus seluruh anak muridnya? Sudah baikkah sistem dalam sekolah itu?  Jika kita perhatikan, ketika bel sekolah berdering tanda waktu pulang sudah tiba, bagaimana reaksi para siswa? Senang bukan?

Jika siswa itu senang ketika bel sekolah tanda waktu pulang bebunyi, berarti, sekolah bukan menjadi tempat yang nyaman, bukan menjadi tempat belajar yang baik, yang efektif.  Sekolah saat ini lebih seperti 'penjara' yang mehanan siswanya dari kegiatan lain.

Sekolah = Penjara

Apa seperti itu konsep pendidikan yang kita inginkan?

****

Sedikit akan saya paparkan hasil tulisan saya untuk diskusi psikologi pendidikan bersama teman-teman di sini.

8.3.15

Mengalahkan Ego (atau Id?) - Introspeksi

Assalamu'alaikum :)

Bulan apa sekarang? Yap, Maret, ga kerasa udah hampir sebulan di Jogja lagi setelah liburan semester gasal kemarin...  Dan ga kerasa juga ternyata udah sebulanan ga nyentuh blog ini.  Kenapa? Bukan karena gaada waktu, waktu mah ada, pasti ada kok insyaa Allah buat berbagi cerita.  Hanya, bingung aja mau cerita apa.  Akhir-akhir ini jiwa menulisnya lagi terbang dikalahkan sama jiwa membaca jurnal penelitian haha :)

Setelah pulang kemarin, mendapat banyak pencerahan.  Ya, memang itulah yang dicari.  Semakin sadar bahwa banyak hal yang harus dikerjakan, tapi kenapa masih bisa berleha-leha?

Ketika kembali lagi ke Jogja, kembali menyadari bahwa sesungguhnya perjalanan masih panjang.  Tapi, apakah perjalanan panjang ini aku niatkan untuk Allah?  Kembali meluruskan niat.. Kembali menatap tujuan-tujuan dan cita-cita yang tertulis di Buku Biru.  Satu hal yang aku tekankan pada diriku sendiri, aku harus bisa mengalahkan egoisme ku sendiri.

31.1.15

Mereka yang Mengerti

Assalamu'alaikum.. :)

Hanya ingin menceritakan satu asumsi, ah bukan, mungkin hipotesis yang kebenarannya hanya terbukti pada sebagian orang saja.  Entahlah. Ya.. cerita tentang mereka yang mengerti.

Bukan mengerti dalam artian yang terlalu berat.  Cukup dalam artian sempitnya, mengerti, tau, yaa.. ngertilah haha.  Hipotesis nya adalah, yang bisa ngerti anak Smansa Bogor hanya anak Smansa Bogor juga. Itu..  Aku bilan ini karena, saat pulang dan bertemu mereka, rasanya.. aku utuh haha apasih.  Bisa ketawa bebas, lawakan-lawakan khas anak smansa yang kriuk kriuk garing ga jelas tapi ya itu yang bikin lucu.  Pembicaraan soal organisasi dan kepanitiaan yang nyambung satu sama lain.  Jelas, karena evident base nya itu kami sama-sama pernah mengalami masa "pelatihan organisasi" yang sama.  Sejenis. #cumadismansa #galurmurniaja-ah hehe :)

Banyak yang bertanya, gimana ospek nya? masih aktif organisasi nggak? dan beberapa pertanyaan lainnya..

Jawabannya..

12.1.15

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana kau mengatakan aku ingin bahagia.  Ya, karena memang itulah sebabmu bahagia.  Jika kamu memberi syarat untuk bahagia, maka akan sulit bagimu untuk bahagia.  Karena syarat-syarat yang tak terpenuhi itulah yang membuatmu tidak bahagia.

Bahagia itu sederhana.
Mengapa tidak kau atur ulang kembali saja mindset mu?

"Aku bahagia hanya jika aku ingin bahagia."

Simpel.

Ketika kau ingin bahagia, maka kau akan bahagia dengan sendirinya, apapun yang terjadi bukan? Ya, karena semua berawal dari mindset, pola pikir, pikiran alam bawah sadarmu.

****

09 Januari 2015

Hari terakhir UAS Gasal.  Mengingat apa yang terjadi di hari sebelumnya, membuatku tak sabar untuk cepat-cepat besok saja.  Aku ingin pulang.  Sejenak melupakan apa yang terjadi di sini, kemarin.