30.11.14

Tentang Tanya

kadang aku bertanya tanya.. bertanya tentang mereka, ya mereka..
mereka yang berada di jalan itu lebih dulu dari aku..
 
bagaimana mereka dididik? 
dari mana mental pemimpin itu hadir? dari mana ke kritisan pikiran itu muncul?

bagaimana kehidupan mereka sejak kecil? apa saja yg mereka lalui? apa saja yg mereka hadapi? bagaimana sikap mereka? apa saja yg telah mereka pelajari?

dan masih banyak lagi kalimat tanya yg terkadang muncul seperti bom dalam pikiranku..

lalu membandingkannya denganku. aku. apa yg sudah kudapat? apa yg sudah kulalui? apa yg sudah kuhasilkan? apa? bagaimana? darimana? mengapa?

semua kata tanya. 5W 1H yang dipelajari sejak SD itu pun, menjadi sesuatu yang seolah olah menguras pikiranku. aku tidak berdaya menolak segala kata tanya itu. terlebih jika aku menerima hal yg membuatku selalu berpikir. apa maknanya?

sungguh, ingin kutahu semua jawaban atas pertanyaanku.
dan malam ini, mengutip pernyataan dr seorang teman di status Line nya malam ini yang tepat seolah mengarah kepadaku, yang berkata, "Bagus jika kamu bertanya, untuk setiap hal yang tak kamu ketahui. Tapi kamu harus tahu jua, kalau tak setiap tanya punya jawabnya"

Mungkin aku memang belum pantas berada di posisi mereka..

dan kembali aku merenung. merenung sembari menyapa alam mimpi yang akan hadir sesaat lagi..

****

23.11.14

Kapasitas

Seperti gelas yang akan tumpah jika diisi penuh dengan air tanpa memindahkannya ke gelas yang lain.  Seperti itu pula manusia.  Masing-masing memiliki kapasitas tersendiri, yang tidak dapat dipaksakan untuk selalu penuh, namun dapat dibangun dengan menyediakan wadah lain untuk mengalihkan isi yang dimilikinya.

Layaknya gelas ukur yang punya ukuran masing-masing, manusia pun harus menyadari kapasitas dirinya.  Jika masih bisa diisi lebih, kenapa tidak? Itu yang dinamakan tahu batasan diri tapi tidak membatasi diri.

Lantas, wadah lain yang bisa membantu manusia apa?

Dalam hal ini, aku menyebutnya rehat.  Beristirahat sejenak dari segala kesibukan.  Mengevaluasi diri, memberikan jatah tubuh untuk diperhatikan.  Manusia bukan robot, yang bisa terus menerus disuruh bekerja.  Suatu keniscayaan bahwa manusia butuh istirahat.  Apalagi jika kapasitas diri sudah full.

Toleransi diperlukan dalam hal ini.  Keikhlasan pun diperlukan dalam hal ini.  Karena kadang, manusia lupa diri.  Ketika tubuh meminta jatahnya, manusia memaksa tubuh itu untuk terus bekerja.  Hasilnya? Semua tergantung pada masing-masing.  Karena aku tidak bisa menjudge sesuatu dari sudut pandangku saja bukan? :)

Intinya, semua punya kapasitas.  Semua punya peran yang berbeda di tempat yang berbeda, baik itu dengan tujuan yang sama maupun berbeda.  Semua sesuai kapasitasnya.  Allah Maha Tahu akan hal itu.

.Karena amanah tidak akan pernah salah memilih pundak.

salam,
anisanza