14.5.14

Ngomongin orang ga ya?

Assalamu’alaikum, blogger..

Dari kemaren pengen nulis, tapi gatau mau nulis apa.  Ada sih... banyak yang pengen ditulis, tapi kalo tulisannya Cuma curcol lagi, sayang blognya hehehe..  Curcol mah sekali-kali aja kan ya? ^^

Gatau kenapa, kali ini pengen nulis tentang ghibah.  Tau ghibah kan? Emm.. secara bahasa gampangnya itu ghibah merupakan kegiatan dimana seseorang membicarakan sesuatu (ga cuma kejelekan) yang tidak disukai oleh orang yang menjadi subjek pembicaraan itu.  Bahasa gaulnya, ngegosip hehehe :P

Maksudnya tidak disukai tuh apasih? Maksudnya gini nih, ketika kita membicarakan seseorang, kita menyebutkan nama orang itu atau kepribadian orang itu, atau kita ngomongin SARA seseorang.  Kadang tanpa kita sadari kita bisa saling menjatuhkan satu sama lain dan menjelekan satu sama lain meski kita tidak bermaksud untuk itu.  Jadi, biar aman yaaa hindarilah ngomongin seseorang.  Walaupun awalnya ga nyebut nama, tapi biasanya kalo udah keterusan pasti suka kepancing buat ngasih tau siapa sih orang yang dimaksud.  Nah, bisa bahaya itu.  Karena ujung-ujungnya kita berghibah.

Meskipun ghibah itu gaboleh, tapi ada ghibah yang dibolehkan, yaitu:


Pertama, ghibah untuk mencegah kezaliman.  Itu kaya ngomongin seseorang untuk mencari solusi.  HARUS dapet solusinya, kalo gaada solusi setelah ngebicarain kesalahan dan kejelekan seseorang, maka obrolan itu termasuk ghibah.

Contohnya, ada seorang temen perempuan/laki-laki kita yang pacaran, sebut saja si A.  Hampir semua orang tau kalo dia itu pacaran.  Beberapa orang ada yang merasa apa yang dilakukan oleh si orang itu salah dan pengen mencari solusinya.  Berkumpulah beberapa orang, dan mulai membicarakan si A.  Ngomong ini itu, si A gini, si A gitu, tapi kalo di akhir obrolan gaada solusi buat si A, maka kita telah berghibah.  Tapi jika di akhir obrolan beberapa orang itu sepakat untuk berusaha membujuk si A biar ga pacaran dengan berbagai cara yang baik (misal cara A,B,C,D sampe Z), nah.. itu termasuk ghibah yang dibolehkan.  Walaupun kita membicarakan kejelekan seseorang, tapi kita bertujuan untuk membuat orang itu menjadi lebih baik dan memperbaiki kesalahannya.

Kedua, ghibah untuk mencari pemimpin.  Maksudnya, kadang ada kan pemilihan ketua organisasi atau apapun yang menggunakan jalan musyawarah/perundingan.  Nah disini, diantara beberapa kandidat tentu kita ingin mendapatkan pemimpin yang paling baik.  Alhasil kita membandingan kandidat satu dengan yang lain.  Mana yang lebih banyak baiknya dan yang paling sedikit kejelekannya.  Disini kan otomatis kita harus membicarakan kejelekan seseorang tanpa diketahui orang itu, itu sama aja berghibah.  Namun, ini hampir sama kaya poin pertama, mencari solusi.  Tentunya kita membicarakan kejelekan orang itu untuk mencapai tujuan yang baik yaitu mendapatkan pemimpin terbaik.  Makanya disini ghibah diperbolehkan.

Bingung ga? .__.  Kalo bingung ntar tanya aja hehehe :3

Ketiga, ghibah untuk menasehati sesama muslim.  Tapi kalo menurut saya ini ga termasuk ghibah sih, karena kita tidak menyebutkan namanya.  Eh, tapi tergantung orang deng, bisa aja termasuk ghibah.

Contohnya gini deh, ada orang tua yang mau nasehatin anaknya supaya rajin belajar, dia bilang ke anaknya gini, “Kamu harus rajin belajar, jangan kaya si Fulan yang kerjaannya main terus.  Tidak ada manfaatnya.”

Dari kalimat itu, disadari atau tidak, sang orangtua menyebutkan kejelekan si Fulan tanpa diketahui oleh si Fulan sendiri, itu termasuk ghibah kan? Tapi kalo niatnya untuk menasehati insya Allah gapapa.  Asal niatnya bukan untuk menjelek-jelekan si Fulan secara sengaja ^^

Sebenernya semua balik lagi ke niat kita sih, kalo mau aman yaa... Diam itu emas.  Bicara seperlunya saja, daripada tanpa sadar kita malah berghibah.  Iya ga? ^^

Di QS. Al-Hujuurat ayat 12 dijelaskan,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Disitu dianalogikan bahwa seseorang yang menggunjing/ghibah/bergosip tentang orang lain seperti seseorang yang memakan daging saudaranya sendiri.  Hiiyy na’udzubillah...

So, lindungilah diri kalian dari segala macam dosa, sekecil apapun itu :)

maaf ya kalo ngebingungin, habis aku juga bingung mau nulis apa hehehe..

salam,

anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar