30.12.13

Kebetulan...

Assalamu'alaikum..

Melankolis lagi.  Iya, habis dapet sebuah pesan, habis liat hujan, habis teringat lagi akan banyak hal...

Kebetulan.
Tidak ada yang namanya kebetulan di bumi ini bukan? Bahkan dari sekolah pulang ke rumah angkot mana yang akan kita pakai, itu bukan suatu kebetulan.  Iya.  Semua sudah digariskan oleh-Nya.  Sudah ditulis.  Bahkan mungkin sudah ditulis jauh sebelum kita lahir.

Kebetulan.
Kita gatau apa yang akan terjadi setelah adanya suatu kebetulan itu. Entah akan menjadi baik atau buruk, kita tidak tahu.  Karena, memang kita tidak tahu apa rencana-Nya bukan? Banyak kisah tentang kebetulan dalam hidupku.  Termasuk kisah dibawah ini....

********


Kebetulan.
Saat itu aku sedang berdiri sendiri di sebuah pertigaan, menunggu angkot. Siapa sangka aku bertemu seorang akhwat yang mengenaliku dengan menyebutkan asal sekolahku. Dia alumninya.  Jalan pulang kami searah. Kami pulang bersama, dan dia membayar ongkos angkotku.  Ya, aku orang yang mudah menghafal wajah.  Aku kenal wajahnya. Suatu kebetulan bukan aku bertemu alumni yang belum kukenal, arah pulang kami sama, dan dia membayar ongkos angkotku?

Kebetulan.
Ternyata aku semakin sering bertemu dengan akhwat itu.  Siapa yang sangka, saat ini dia menjadi murabbi liqo-ku.  Siapa yang sangka, kebetulan yang dulu terjadi membawa kami menjadi mengenal lebih dekat dan tergabung dalam lingkaran cahaya. Siapa yang sangka?

****kelas 10, sepertinya aku ga nulis itu di jurnal****

Kebetulan.
Saat itu aku berusaha menjadi orang yang asik.  Yang bisa bersosialisasi dengan mudah.  Dan bertemu seorang laki-laki. Yang entah mengapa, seolah-olah dia tau semua hal tentangku.  Yang akhirnya membuatku banyak cerita ke dia. Yang akhirnya membuatku menyukainya.  Yang akhirnya, dia yang memintaku menjauh darinya.

Kebetulan.
Bukan kebetulan aku bisa dekat dengan orang itu. Bukan kebetulan juga aku bisa menyukai orang itu. Sakit.  Tapi dari dia, aku belajar tentang bagaimana cara melepaskan, bagaimana cara sabar, bagaimana cara ikhlas, dan bagaimana cara melupakan.  Dia jahat.  Itu yang membuat aku mudah melepasnya.  Mama papa tau itu. Dan aku pun tau, orang seperti itu, tidak boleh masuk ke dalam lingkaran kehidupanku. Tapi, kuambil banyak pelajaran darinya.  Pelajaran untuk selalu percaya diri, optimis, dan selalu tersenyum :)

****15 Januari 2012, pertama kali aku mengenalnya****

Kebetulan.
Setiap orang yang masuk dalam hidup kita, pasti memiliki arti tersendiri. Allah memiliki tujuan untuk itu.  Tapi kadang, memang kita yang menyalahartikan kebetulan itu.

Kebetulan.
Entah bagaimana aku bisa dekat dengan mereka semua. Dikenal.  Aku lupa awalnya.  Tapi... mereka membuatku merasa dibutuhkan, dikenal, dianggap.  Mereka. Aku bingung mendeskripsikannya. Aku menjadi bagian kecil dari mereka. Mereka membuatku mengenal-Nya lebih dekat.  Mereka menjadi salahsatu panutanku. Mereka begitu indah di mataku.

Kebetulan.
Itu pasti bukan suatu kebetulan aku mengenal mereka.  Allah yang mengenalkan aku pada mereka. Allah punya tujuan.  Ya.  Sekarang aku menjadi lebih mengenal Allah melalui mereka.  Aku sayang mereka.  Meski sempat beberapa waktu kemarin, aku membenci mereka.  Tidak. Bukan benci.  Tapi marah.  Kesal.  Karena aku merasa salah menilai mereka.  Entahlah.  Aku tidak mau mengingt itu lagi. Aku hanya ingin menjadi orang baik, bukan di mata mereka, tapi di mata Dia, yang mengenalkanku pada mereka.

****Mulai kelas 10.  Entah kapan, aku lupa****

Kebetulan.
2013.  Banyak kebetulan yang terjadi.  Sudah kubilang, aku tidak percaya dengan yang namanya kebetulan.  Karena aku yakin, semua kebetulan-kebetulan itu sudah direncanakan oleh-Nya untuk suatu tujuan.
2013.  Banyak hal yang mulai tidak aku mengerti.  Aku belajar untuk mengerti, menafsirkan sendiri, berharap aku tidak melakukan suatu kesalahan dalam menafsirkan sesuatu.
2013.  Banyak orang baru masuk ke siklus kehidupanku. Merubahku. Membuat aku belajar lebih banyak tentang kehidupan.  Membuatku tahu arti sebuah kepercayaan, kesetiaan, toleransi, dan memaafkan.

Kebetulan.
Entah ini kebetulan yang terakhir atau bukan.
Entah apakah cara aku menanggapi kebetulan itu salah atau benar.
Yang aku tahu, aku menanggapi dengan cara berbeda, dengan jalan berbeda, tanpa berpaling dari ketentuan, kewajiban, dan perintahh dari-Nya...

********

Kebetulan.
Aku mengikuti suatu acara. Yang tanpa kuketahui mungkin itu awal dari kebetulan-kebetulan selanjutnya.
14 Februari 2013.

Kebetulan.
Lagi-lagi, aku mengikuti suatu acara.  Saat itu ruangan kami bersebelahan.  Saat itu pula aku belum mengenalnya.  Tapi dia ke ruanganku. Menghampiri mejaku, dan mengajakku berbicara. Ternyata acara yang aku ikuti membuatku mengenalnya lebih jauh.  Meski akhirnya tidak ada kontak diantara kami setelah acara itu, pertemuan pertama di ruanganku, selalu kuingat.

Kebetulan.
Lagi-lagi, entah apa maksudnya, aku merasa seperti kami memang dipertemukan kembali. Melalui hal sepele. Majalah. Dari situ dia mulai banyak bercerita tentang dirinya, tentang keluarganya. Aku tersentak. Dia bilang dia nyaman. Dia bilang, dia percaya padaku akan semua ceritanya yang tidak seorang pun tahu. Aku terenyuh. Hidupnya lebih keras dari pada hidupku. Banyak kesamaan antara kami. Banyak juga hal yang membuat kami saling mengisi, saling mendukung, saling menyemangati dalam kebaikan.

Kebetulan.
Aku semakin yakin tidak ada yang namanya kebetulan.
Dia bilang, itu takdir. Takdir Cinta dari Yang Mahakuasa.

Kebetulan.
Karena kebetulan-kebetulan itu, aku bertekad ingin membantunya menjadi lebih baik.  Manusia memang tidak sempurna, manusia memang lemah, pasti ada yang kurang dari caraku membantunya. Pasti ada salah. Mungkin ada orang yang menyesal mempertemukan kami.  Tapi... patutkah penyesalan itu? Jika memang kebetulan itu sudah ditakdirkan, setiap orang bisa saja bertemu.

Kebetulan.
Aku dan dia bertekad meningkatkan ibadah kami, tentu, karena cobaan yang kami hadapi di depan jauh lebih besar. Dia bilang, dia banyak belajar dariku. Akupun banyak belajar darinya. Betapa kuatnya ia menjalani kehidupannya, yang jika aku sendiri mengalami itu, mungkin aku bisa tidak mau bersekolah berhari-hari. Kami bersahabat. Mungkin dimata banyak orang, kami salah. Tapi, kami selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata-Nya. 

Kebetulan.
Jika aku harus melupakan sahabatku yang satu ini, aku tidak yakin aku bisa.  Kecuali dia jahat kepadaku seperti orang itu, mungkin bisa... tapi aku pun tidak yakin aku bisa melupakannya. 

Kebetulan.
Apakah suatu kebetulan jika aku menyayanginya?

Kebetulan.
Aku masih mencari apa tujuan Allah mempertemukan kami.  3 cerita diatas, aku sudah memiliki jawabannya.  Namun yang satu ini belum. Belum pasti. Karenanya, aku harap, kami tidak dipisahkan. Entahlah, kita tidak bisa menolak takdir-Nya. Pertemuan ada, Perpisahan pun pasti ada. Adikku bilang, aku banyak berubah.  Menjadi lebih sering tersenyum, lebih baik, dan entah apalagi. Akupun merasa begitu. Dulu, aku jahat ke adikku, aku jarang memeluknya, apalagi menciumnya. Namun... aku tidak tahu apakah itu efek dari aku menyayangi sahabatku ini atau tidak, tapi yang jelas, aku menjadi lebih mengerti bagaimana aku harus menyayangi keluargaku.  Aku belajar itu dari sahabatku ini.

Kebetulan.
Untuk kebetulan yang satu ini, belum ada akhirnya. 

****28 Maret 2013, terima kasih ya Allah****

salam,
anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar