24.11.13

kembali dengan kisah klasik :')

Assalamu’alaikum...

Lama tak bersua dengan blog ini.  Udah banyak jaring laba-laba kayanya hahaha... Yah, dilema kelas 12 itu, ternyata seperti ini.  Bukannya tugas makin dikit biar punya banyak waktu buat belajar, eh malah tugas numpuk dengan deadline yang mepet-mepet yang bikin mau belajar buat UAS, UN, apalagi SBMPTN aja susahnya setengah idup... huhuhu T,T

Tapi, yaah... kapan lagi? Hahaha, buat refreshing dikit, akhirnya menyentuh blog ini lagi setelah sekian lama tidak ada kehidupan baru disini *apasih*

Saya kembali dengan sebuah kisah menarik.  Sedikit cheesy mungkin, atau menjijikkan, atau em... menggelikan, atau emm menyebalkan, atau bahkan mengundang haru...  Haha, gatau ah, pendapat orang beda-beda.  Lama ga nulis cerpen atau novel lagi, eh dapet inspirasi kisah ini.  Daripada berlama-lama menggalaukan keadaan kelas 12 yang aneh ini, mending baca kisah dibawah ini aja yuk! Check this out! :)


Tersebutlah seorang laki-laki.  Dia salah satu dari sekian banyak laki-laki yang memiliki pemikiran berbeda dari kebanyakan orang.  Dewasa.  Pintar berbicara juga bersosialisasi.  Namun, di sekolahnya, pemikirannya yang berbeda itu membuat dia ditertawakan.  Dianggap aneh oleh teman-temannya.  Dia lebih suka aktif diluar sekolahnya, karena tidak ada yang pernah mentertawakan pendapatnya seperti teman-temannya di sekolah.  Dia seorang ikhwan, tahu ilmu agama dengan baik.  Ya, mungkin memang masih banyak yang tidak diketahuinya, karena dia masih dalam perjalanan kehidupan.  Masih mencari kebenaran.

Di lain tempat, ada juga seorang perempuan.  Seorang akhwat.  Tahu agama, ramah, namun tidak pandai berbicara dan mengutarakan pendapatnya ke orang lain.  Dia baik pada siapa saja yang memang baik padanya.  Seorang yang perasa, yang tidak akan mendekati seseorang atau suatu kelompok yang dia tahu bahwa mereka tidak mengharapkan kehadirannya.  Latar belakang keluarganya berbeda dari teman-temannya yang lain.  Dia tidak suka dibandingkan, tapi suka membandingkan dirinya sendiri dengan teman-teman dekatnya.  Perempuan ini pun masih dalam perjalanan kehidupan.  Masih mencari kebenaran.

Suatu hari, mereka berdua bertemu dalam suatu perkumpulan yang sedang mengadakan sebuah acara.  Mereka hanya sebatas kenal karena berasal dari perkumpulan yang sama.  Mereka juga membawa teman mereka masing-masing.  Keduanya tidak ada yang mengira mereka akan mengenal lebih jaih masing-masing pribadi.  Karena, setelah acara itu selesai pun, mereka tidak berhubungan sama sekali.  Kembali ke kehidupan mereka masing-masing.

Namun, suatu hari, entah bagaimana, mereka mulai saling berkomunikasi.  Tidak ada yang spesial.  Mereka berkomunikasi layaknya kepada sesama teman, sahabat, yang saling mengerti kondisi masing-masing.  Tidak pernah terbesit apapun sampai akhirnya, keduanya menyadari bahwa mereka menyimpan perasaan lain dalam hati mereka.

Kisah klasik memang.  Tapi itulah realitanya.  Laki-laki itu mengungkapkannya.  Hanya saja, perempuan itu pun merasa amat bersalah, karena secara tidak langsung, dialah yang memaksa si laki-laki untuk mengungkapkan semuanya.  Perempuan itu awalnya tidak menyangka bahwa namanyalah yang akan disebut oleh sang laki-laki.  Awalnya dia hanya iseng.  Namun, ternyata disitulah kesalahan besar yang mereka lakukan.

Tidak ada apa-apa setelah kejadian itu.  Mereka biasa saja.  Masih saling berhubungan tanpa ada hal-hal spesial masuk ke dalam hubungan mereka meski mereka tahu, keduanya punya rasa yang sama.  Ya, tidak ada, sampai mereka menyadari bahwa semua orang mulai mempermasalahkan hubungan mereka.

Mereka berdua menyadari, kesalahan terbesar mereka adalah mengungkapkan perasaan itu.  Mereka tahu itu.  Keduanya tahu agama, tahu batasan, saat itu mungkin mereka sedang khilaf.  Tapi mereka menegaskan bahwa tidak ada hal apapun yang terjadi setelah insiden itu.  Dan mereka pun mulai membentengi iman mereka lagi.  Namun tidak ada yang percaya.

Awalnya mereka tidak peduli.  Yasudahlah, terserah orang mau bilang apa, yang jelas mereka sudah menegaskan bahwa tidak ada apa-apa dan mereka pun mengurangi intensitas hubungan mereka.  Tapi, ketika mereka tahu bahwa orang terdekat, teman terdekat mereka pun tidak percaya bahkan seolah-olah menjauh dari mereka, mau tidak mau keduanya harus menjalin komunikasi lagi untuk mencari solusi.

Hawa tidak enak, selalu mereka rasakan ketika bersama orang-orang terdekat mereka.  Ada apa ini?  Keduanya bingung.  Keduanya tidak tahu harus bagaimana.  Sebenarnya mereka sudah berhenti berhubungan.  Namun, jika semua orang menjauh, kepada siapa mereka harus bercerita?  Kepada siapa mereka harus mengungkapkan kekesalan, kemarahan, masalah, dan cerita?  Kepada Allah itu pasti.  Setiap saat mereka lakukan.  Tapi mereka butuh teman.  Keduanya sama-sama tidak memiliki orang yang bisa dipercaya.  Karena orang-orang yang mereka percaya justru menyalahkan mereka di belakang.

Keduanya berpikir.  Keduanya mencari solusi.  Namun tidak mereka dapatkan.

Mereka tahu mereka salah, mereka hanya butuh dukungan untuk memperbaiki semuanya.  Pada akhirnya, mereka hanya bisa pasrah.  Menyerahkan semuanya pada Allah.  Terserah orang-orang mau berpikiran apa tentang mereka.  Toh, sudah dijelaskan pun tidak ada yang mengerti, tidak ada yang percaya.  Keduanya kecewa.  Keduanya hanya butuh pengalih yang bisa menemani masih masing dari mereka. 

Pertanyaan ini selalu berkelebat di pikiran keduanya.  “Apa yang orang-orang itu pikirkan?  Apa yang mereka mau?  Kenapa mereka tidak membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini?  Kenapa mereka seolah-olah menjauh?  Kami tidak ada apa-apa.  Apa yang harus kami lakukan?  Haruskah kami benar-benar memutus silaturahmi?  Kami berbeda dengan kalian.  Haruskah kami mengikuti cara kalian?”

Tidak ada yang menjawab.

Huaaahm...  Susah juga ya? Mungkin keduanya kesepian.  Hahaha, yah, ketika kamu gapunya temen yang bisa menampung ceritamu dan menanggapi ceritamu, ketika ada satu orang yang satu pemikiran, peduli, dan bisa ada saat dibutuhkan, siapa yang mau melepasnya? :)

Satu hal yang bisa diambil dari cerita diatas terkait ukhuwah adalah, saling mengingatkan.  Kalo ukhuwahnya bagus, ya kalo salah nasehatin dan dukung supaya jadi lebih baik.  Kalo ada temennya kesepian ya... temeninlah haha, yakali orang lagi kesepian malah ditinggal pergi.  Makin kesepian aja itu orang.

Ciaaat ciaat ciaat...  Individualisme jaman sekarang makin merebak ya hahaha... dulu waktu kecil saya punya 3 sahabat deket rumah yang kalo seneng, kita seneng bareng.  Kalo sedih, kita sedih bareng.  Kalo main , kita main bareng.  Kalo ada yang marahan, yang lainnya bantuin biar baikan.  Huhuhu, kangen masa kecil.

Kita emang gabisa bergantung pada manusia.  Allah tempat menggantungkan segala sesuatu.  Hanya Allah yang mengerti siapa kita, bagaimana kita, kelemahan dan kelebihan kita :)

So, jangan kecewakan temanmu ya...  Juga jangan sia-siakan orang yang menyayangimu dan peduli padamu.  Satu lagi, kalo suka sama orang jangan pernah diungkapin!!!!!!!!!!!!!!!!....3000x  *pake tanda seru banyak*

Sabar itu sulit.  Tapi kita akan menikmati buah dari kesabaran itu lebih nikmat dan lebih istimewa pada saatnya nanti.  Allah ga pernah ingkar janji kan? Allah tau yang terbaik buat kita kan? Dan Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu mau yang mau merubahnya sendiri.  Iya ga? ^^

Semangat kawan! Jaga hati, jaga lisan, jaga kelakuan.  You’re the best than everyone!  Karena setiap orang berbeda dan pasti spesial dimata keluarganya :)

That’s all, mau ngerjain kartul dulu haha
salam kangen,

anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar