24.6.13

Cinta Masa Kecil [part 1]

Assalamu'alaikum!! akhirnyaaa ngeblog juga, udah ada yang ribut nungguin postingan terbaru dari saya hahaha.. oke, sebelum cerita-cerita tentang sekolah dan kesibukan selama 2 bulan ini (bakal melankolis soalnya) saya mau post cerpen yang dibikin sama saya dan seorang teman *lirik Salsa* waktu ada tugas B. Indonesia kelas X.  Enjoy :)

Bel telah berbunyi 4 kali.  Yukiko segera membereskan bukunya dan beranjak dari tempat duduk menuju kantin.  Ini sudah memasuki bulan kedua dia bersekolah sebagai seorang anak SMA di salah satu SMA terbaik di Jepang.  Awalnya, dia enggan dapat diterima di sekolah ini.  Namun, ada satu motivator terbesarnya sampai akhirnya Yukiko berjuang demi mendapatkan kursi di sekolah ini.  Ya, itu karena Kashimura.
Yuki dan Kashimura sudah bersahabat sejak kecil, sejak Yuki berumur 3 tahun dan Kashimura berumur 5 tahun.  Mereka bertetangga.  Kashimura adalah orang pindahan yang menempati rumah kosong di depan rumah Yuki.  Mungkin karena faktor kedua orangtua mereka juga bersahabat, jadilah mereka bersahabat dekat seperti sekarang.  Bahkan bisa dibilang, mereka lebih dekat dari saudara kandung.
Kembali ke masa kini.  Yuki mencari-cari Ran, sahabatnya, yang biasanya sudah duduk manis di meja tengah kantin.  Matanya menyapu ruangan 2x3 meter itu dan seulas senyum langsung tampak diwajahnya saat ia menemukan siapa yang dicarinya.
“Ran-chan!” sapanya sambil menepuk bahu Ran
“Uhuk! Hey, Yuki.  Kau tidak lihat aku sedang minum?” jawabnya sambil mengelus-elus leher akibat tersedak tadi.
Yukiko tersenyum, dia memalingkan matanya keluar kantin, “Ran-chan...”
“Hm?”
“Apa itu, Asahi-neechan?”
“Mana?”
“Itu, perempuan bertas merah yang sedang berjalan dengan...  Kashimura?”
Ran berbalik arah, melihat kemana Yukiko melihat.
“Yuki, apa mereka, berpacaran?”
Yukiko menunduk.  Dia lalu menggelengkan kepalanya, “Entahlah, Kashimura-san tidak pernah bercerita kepadaku soal itu.  Ayo pulang.”
Yukiko menarik tasnya dan berjalan keluar kantin.  Ran hanya bisa diam dan membiarkan sahabatnya menyendiri sampai semuanya benar-benar jelas.  Dia langsung berjalan menyusul Yukiko pergi dari sekolah.
****
From : Kashimura
Hahaha, kau memang tahu segalanya.  Tanpa kubilang pun kau sudah bisa menebaknya, ya, kami sudah pacaran sejak 2 minggu yang lalu. :)
Jelaslah semuanya.  Kini, Yukiko merasa matanya panas, dan meneteslah air mata itu satu-persatu.  Dia pun me-non-aktifkan ponselnya dan menyimpannya dalam lemari.  Lampu kamarnya pun ia matikan, dan dia lantas menarik selimut, mengeluarkan tangisan hatinya dibalik selimut merah muda itu.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 6.40.  Yukiko terbangun dari tidurnya dan menatap ke cermin.  “Ah, mataku bengkak!”  Lantas ia pun berjalan dengan gontai ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah.  Tidak peduli apakah akan terlambat atau tidak.
5 menit menjelang bel berbunyi.  Yukiko sudah dekat dengan sekolahnya.  Dia terburu-buru dan menyesali tindakkannya yang ke kanak-kanakan semalam.  Tidak seharusnya dia bangun kesiangan.  “Ah, sial!” gerutunya.
Saking terburu-burunya, dia tidak melihat seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya, tiba-tiba, BRUUK.
“Maaf, maaf.” Tanpa peduli akan siapa yang ditabraknya, dia langsung berlari menuju kelasnya tepat sebelum bel berbunyi 3 kali.
****
“Tunggu.  Tadi CD nya aku masukkan ke dalam buku.  Ah, kenapa tidak ada?  Bagaimana ini?” ujar  Yukiko panik.  Dia ditugaskan untuk memasukkan seluruh softcopy karya tulis bahasa Indonesia milik teman-teman sekelasnya ke dalam VCD dan harus dikumpulkan hari ini.
“Baiklah, saya beri kamu waktu sampai pulang sekolah.  Nanti langsung kumpulkan di meja bapak.  Mengerti Yukiko?”
“Baik, sensei[1].”
Dengan lemas, Yukiko kembali duduk di tempatnya.  Bagaimana bisa VCD yang dimasukkan ke dalam buku lenyap begitu saja.  Yukiko bingung, semua file karya tulis itu ada di rumah.  Tidak mungkin baginya pulang ke rumah lalu kembali lagi ke sekolah saat jam berakhir.  Bisa-bisa Izumo sensei sudah pulang.
“Permisi, ada yang kehilangan VCD ini?”
Seketika itu juga semua mata di dalam kelas 10-I menatap ke arah pintu.  Sosok siswa berkacamata dengan rambut cepak bediri di depan pintu sambil menunjukkan sebuah VCD yang terbungkus plastik.
“Aahh!! Itu milikku!” Yukiko berlari ke arah siswa tersebut dengan binar wajah yang senang.  “Arigatou gozaimasu[2]!”
Siswa itu hanya mengangguk tersenyum dan berlalu.
“Sensei, ini VCD-nya.  Silahkan di cek kembali.” Ujar Yukiko dengan senyum yang masih terpancar di wajahnya.
Ketika dia kembali ke bangkunya, pikiran itu mulai datang.  Siapa siswa tadi? Kenapa VCD itu bisa ada di tangannya?
Dan terlintas satu jawaban.  “Dia orang yang tadi pagi tabrakan denganku!”
****
Seperti biasa, sepulang sekolah Yukiko makan siang dengan Ran di kantin.  Dan Yukiko menceritakan kejadian tadi pagi kepada Ran dengan wajah berbinar-binar.
“Hati-hati, dari caramu menceritakan orang itu, aku khawatir kau akan menyukainya.” Ujar Ran menanggapi cerita sahabatnya itu.
“Ah, tidak mungkin.  Hanya ada Kashimura-san di hatiku.  Hahaha...”
“Kamu, yang tadi pagi kehilangan VCD kan?” kata seorang laki-laki yang menghampiri meja Yukiko dan Ran.
Yukiko menengadah, “Ya, benar.  Dan kau...  Hey, kau penyelamatku pagi ini!”
Laki-laki itu hanya tersenyum, “Jangan berkata seperti itu.  Kenalkan, aku Ryu.  Aku sedang mencari seseorang yang mau menjadi penyiar radio sekolah.  Apa kau mau? Kudengar dari teman-teman sekelasmu tadi, kau sangat pintar berbicara bukan?”
Yukiko dan Ran saling pandang.  Bingung.
“Memangnya kau di bagian apa di radio sekolah?”
“Ketua.” Jawabnya singkat
“Apa? Wah, betapa berutungnya aku diminta langsung oleh sang ketua.  Baiklah, anggap sebagai rasa terima kasihku karena kau menyelamatkanku hari ini, maka akan kucoba menerima tawaran itu.”
“Oke, besok jam istirahat, datang saja ke ruangan kami.  Kau tahu bukan?”
“Yap! Tentu, di lantai 4 sebelah kanan tangga.”
“Tepat! Kami tunggu.”
Yukiko mengangguk, dan Ryu pun berlalu.  “Dia orangnya!” ujar Yukiko kepada Ran.
“Lumayan...”
“Hey, Ran! Awas nanti dirimu yang menyukainya.  Hahahaha...”
Ran memukul bahu Yukiko.  Dan mereka menghabiskan makan siang dengan berbagai candaan, tanpa menyadari ada yang memperhatikan dari jarak jauh.
****
Semenjak Yukiko resmi menjadi penyiar radio sekolah berkat Ryu, dia dan Ryu menjadi sering pulang bersama—karena Ran juga yang menyarankan hal itu kepada Yukiko supaya dia dapat melupakan Kashimura—sampai bertukar cerita.  Berawal dari pelajaran sekolah, klub yang diikuti, hobi, cita-cita, dan akhirnya sampailah ke masalah pribadi.
“Oh, jadi kau baru saja disakiti teman kecilmu?” tanya Ryu sepulang sekolah.
“Hm... Sebenarnya hanya aku yang merasakan hal itu, orang itu tidak tahu karena dia pun sebenarnya hanya menganggapku sebagai adiknya.”
“Lalu, sekarang apa rencanamu mengenai hal itu.”
“Simpel saja.  Melupakan Kashimura... UPS!” Yukiko terkejut.  Dia menutup mulutnya karena tanpa sadar dia menyebut nama seseorang yang sedang dibicarakannya dengan Ryu.
Ryu mengangkat alis, “Ah, Kashimura.  Aku mengenalnya.”
Yukiko tertunduk malu, menyembunyikan semburat kemerahan yang muncul di pipinya, “Bagaimana mungkin kau tidak mengenalnya.  Kalian kan satu kelas.”
“Ya, benar.” Ryu ikut menunduk, “Jadi, kau yakin dapat melupakannya setelah hampir ehm,” Ryu menengadahkan kepala dan melanjutkan, “Setelah hampir 11 tahun menyukainya?”
“Entahlah, aku hanya bisa berharap pada kemungkinan kecil itu.  Hey, sepertinya kita harus berpisah disini.” Ujar Yukiko sesampainya mereka di simpang tiga tempat mereka biasanya berpisah.”
“Mm, dah...” Ryu melambaikan tangannya dan berjalan ke arah persimpangan sebelah kanan, sedangkan Yukiko berjalan ke arah lainnya.
Sambil terus berjalan menuju rumahnya, Yukiko termenung.  Entah apa yang terbesit di pikirannya sampai akhirnya bayangan Ryu hadir.
“Hey, kenapa aku jadi memikirkan Ryu? Tapi... tak apalah, mungkin dengan kehadiran Ryu, aku bisa melupakan Kashimura-san.  Ya, membuang bayangan Kashimura-san pergi jauh, lebih jauh dan bayangannya akan menguap lebih tinggi dari gunung Fuji sampai akhirnya hilang dari pikiranku.  Ha!” gumamnya sambil menghembuskan nafas panjang.
****

to be continue...



[1] guru
[2] Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar