18.12.12

sahabat.. sahabat?

Sahabat...

Saya sedikit lupa, kapan saya terakhir kali merasakan benar benar punya sahabat.  Mungkin saat kelas 6 SD, atau 9 SMP? Saya lupa.  Karena saya sendiri bingung apa itu sahabat.

Dulu yang ada di dalam benak saya tentang “Sahabat” adalah, orang yang selalu ada di samping kita, orang yang siap berbagi kapan pun, orang yang mendengarkan atau didengarkan, orang yang ada saat suka maupun duka, dan orang yang berani menegur jika sahabatnya berbuat kesalahan.

Saya bingung...

Apa mungkin selama ini saya belum merasakan yang namanya, benar-benar rasa sebuah persahabatan? TIDAK. Saya pernah merasakannya.  Sebelum saya pindah ke Bogor.  Ya, hanya itu yang saya rasa benar-benar persahabatan.  Saya bisa ke rumahnya kapanpun.  Saya selalu diterima di sana. Saya bisa bercerita apapun. Meski diakhir waktu saya disana kami sempat bertengkar hebat. Tapi akhirnya kami pun masih surat-suratan. Meski pernah lost-contact, kami tidak saling melupakan.

Yah... sampai akhirnya kami punya kehidupan masing masing. Berbeda kota. Provinsi. Tapi masih di Indonesia.

Mungkin pernah lagi, tapi saya rasa, mereka hanya teman masa kecil. Satu jemputan, satu komplek rumah, dan sering bermain bersama.  Ulang tahun pertama saya di Bogor pun sepertinya mereka yang membuat rencana untuk surprise-surprise-an. Sampai akhirnya saya juga yang beli kue ultahnya.

Masa kecil yang indah :)

SMP maupun sekarang SMA, saya jadi bingung lagi.  Sahabat? Saya memang pernah berkata bahwa “Kita sahabatan kan?” dan beberapa pernah memberi saya sesuatu bertuliskan, “Untuk sahabatku”

Tapi saya bingung, serius, saya bingung apa sebenarnya sahabat itu?

Saya merasa selama ini hanya... teman dekat. Teman yang akrab. Tapi hanya “Teman”. Entahlah.

Tapi ketika saya melihat mereka. Saya berpikir, mungkin seperti merekalah sahabat itu. Dan saat saya melihat mereka, saya merasa selama ini memang saya belum memiliki sahabat.

Hahaha, seperti pembahasan anak kecil ya? Iya, mungkin saya masih belum dewasa. Belum, tapi akan.

Tiba-tiba ingin mengutip lagunya NOAH, “Kamu mengerti aku mengerti kamu...”

Mungkin itulah sahabat.  Saling mengerti, datang saat sahabatnya memang butuh.  Tiba-tiba terlintas. Ada. Dulu ada. Bukan sahabat. Saya menganggapnya, kakak. Saat saya butuh untuk cerita, dia siap.  Saat saya lagi gajelas, dia pun ada. Saat saya ada masalah, dia selalu bertanya, “Ada masalah?” atau “Mau cerita?”  dan satu kata semangat dari dia, selalu membuat saya langsung semangat. Hahaha, tapi itu dulu. Sekarang dia udah pergi, entah akan kembali atau tidak. Dia hanya ingin saya melupakannya, dan tidak menganggapnya seperti kakak lagi. Sedih yah? :)

Tapi satu hal yang saya yakini. Sahabat sejati, cinta sejati, yang tidak akan pernah pergi meski kita pergi meniggalkannya, yang tidak akan melupakan meski kita kadang melupakannya, yang selalu siap, selalu ada untuk mendengar keluh kesah dan bahagianya kita, ada satu.

Allah Subhanallahu Wata’ala.

Hanya Dia, yang tidak akan pernah hilang. Tidak akan pernah :D

salam,
anisanza


NB: manusia memang tidak dapat hidup sendiri.  Manusia selalu butuh orang lain. Seperti saya yang sedang butuh orang yang tepat, yang bisa menyemangati, berbagi cerita, seperti kakak itu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar