15.12.12

curang, malu, sedih


Rasanya di curangi?

Ah... biarlah.
Yap, seminggu UAS berlangsung, saya tidak terlalu peduli bagaimana nanti nilainya akan keluar.  Yang saya pedulikan adalah bagaimana usaha saya untuk mencapai nilai yang terbaik.

Tidak asing lagi bagi saya, dan mungkin sebagian orang, mengenai mereka-mereka yang curang.  Entah nilai mereka akan lebih bagus dari saya atau tidak, saya tidak peduli.  Saya bangga dengan hasil saya sendiri, mau bagus atau jelek yang penting hasil usaha saya.

Tapi saya sedih.  Mau tidak mau, saya pasti mempedulikan mereka, meski sedikit.  Yang saya pedulikan adalah, mereka, yang sebagian besar adalah pemimpin dalam organisasi kecil di sekolah itu, curang.


Sedih karena mereka adalah pemimpin.
Sedih karena mereka adalah teladan.
Sedih karena mereka berbuat curang.

Saya malu.  Malu akan banyak hal.
Saya malu ketika saya tau dan saya hanya bisa diam.  Separah itukah?
Saya malu ketika saya tau dan saya tidak menegur karena masih ada sedikit rasa takut dalam hati.

Entahlah, saya sadar, ada kesalahan dalam diri saya ketika saya takut berbuat kebaikan. Saya salah.  Mereka salah.  Semua salah. Saya bingung dengan keadaan ini.

Apa yang akan terjadi 20 tahun yang akan datang ketika giliran generasi kami yang memimpin negeri ini, jika bibit bibit penerusnya saja sedari dini sudah melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan seorang pemimpin. Curang, Inconfident-Ketidakpercayaan pada diri sendiri, maunya cepat selesai dengan jalan pintas, tidak mau kerja keras di jalan yang benar.  Apa yang akan terjadi?

Pantas saja sekarang banyak pemerintah negara yang korup.  Makan hak rakyat.  Apa itu pemerintah yang merepresentasikan rakyat?  Mereka saja tidak mengerti apa yang dibutuhkan rakyatnya.  Apa itu wakil rakyat?  Mereka saja tidak mewakili keadaan rakyatnya, malah masih banyak yang mengambil keuntungan dari HAK rakyatnya.

Ah, saya tidak mengerti.  Saya bingung.  Jangankan negara, saya sendiri bingung dengan keadaan organisasi di sekolah itu.  Menjadi minoritas yang mempertahankan bibit jujur, baik, dan bertanggungjawab hampir selalu kalah dengan mereka yang menjadi mayoritas. Dan ketika harus berjuang lagi sendiri, itu berat.

Tapi hey! Saya masih punya Allah, saya masih bisa berdo’a, saya tidak sendiri.  Ya, saya sadar.

Kembali ke masalah KECURANGAN.

Ah, tidak akan ada habisnya.  Setidaknya, saya sudah punya 1 tekad dalam hati.  Itu rahasia. Yang jelas, saya tidak akan pernah mau berbuat curang.  Karena apa? Karena rasa senang, rasa bangga yang didapat setelah itu akan berbeda.

Seperti hari terakhir UAS kemarin.

Setelah saya mengumpulkan lembar jawaban dan lembar soal pelajaran terakhir, saya masih memasang wajah datar. Biasa. Sok cool. Mengambil tas, membereskan meja, salam ke guru, dan keluar.  Tahu apa? Di luar saya langsung menabrak diding koridor yang menghadap ke bawah, menutup mulut saya dengan jaket,  dan berteriak bahagia.

Yap, saya bahagia.  Menyelesaikan semuanya. Hasil kerja keras saya, dibantu oleh Allah.  Saya lega.  Dan saya tidak pernah merasakan kelegaan itu sebelumnya...

Mama saya pernah berkata bahwa biarlah mereka semua berbuat curang, biarlah mereka melakukan apapun yang mereka mau, mau nuker nilai, mau nyontek, mau ngapain aja terserah mereka.  Toh nanti saat kuliah jika mereka memang diterima, akan ada seleksi alam. Dan sudah banyak kejadian yang membuktikan bahwa yang jujur tetap akan menang :)

Saya harap, cerita singkat diatas, bisa diambil pelajarannya.  Semoga kalian tidak termasuk orang yang berbuat curang terhadap sesama. Berbagi cerita itu menyenangkan bukan? :)

salam,
anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar