29.11.12

under-pressure


Pernah merasa tertekan?

Mungkin hampir setiap orang pernah merasakan hal itu.  UNDERPRESSURE.  Di bawah tekanan.

Dan saya yakin, penyebabnya pun berbeda-beda.  Dari lingkungan, dari teman, dari orang tua, dan dari mana-mana.  Dan mungkin juga dari dirimu sendiri.

Dirimu tertekan, bukan karena orang lain.  Tapi karena dirimu sendiri.  Pernah?

Ketika dirimu menuntut “Kamu harus bisa menandingi mereka!” “Kamu harus belajar!” “Jangan mikirin hal lain selain BELAJAR!” “Pokoknya BELAJAR!”

Pernah?

Dari lingkunganmu, sekolahmu, bahkan dari ruang kelas atau teman sebangkumu.  Dia yang begitu rajin mencatat, dia yang begitu pintar, dia yang begitu aktif menjawab setiap pertanyaan guru, dia yang bisa mengajarkan orang lain, dia yang SELALU dilihat orang karena kelebihannya, karena kepintarannya, karena prestasinya, bahkan dia yang suka mencontek setiap ulangan.  Tekanan memang. 


kamu tak punya orang untuk berbagi.  Bukan tak punya, ada, tapi rasa percaya untuk berbagi dengan yang lain itu belum kamu berikan.  Kamu belum percaya dengan orang di sekitarmu.  Tanpa alasan.

Ketika orang terpercaya itu tidak ada.  Ketika tak ada waktu untuk mencari, menelusuri siapa orang terpercaya itu.  Siapa orang yang bisa diajak berbagi, bukan hanya untuk sekedar mendengar, atau berkomentar, tapi orang terpercaya yang juga dapat turut merasakan apa yang kamu rasakan.

Ketika orang yang sudah kamu percaya pergi.  Pergi begitu saja dengan meninggalkan jarum-jarum di depan jalan yang akan kamu tempuh.  Dengan pahit senyum terakhir yang diberikan, dia pergi meninggalkanmu.  Entah itu dengan atau tanpa dia sadari.

Ketika bahkan orangtuamu, orang yang amat sangat paling dekat denganmu, sedarah denganmu pun tidak bisa mengerti apa yang sedang kau hadapi, apa yang sedang kau rasakan, dan bagaimana tekanan itu menghantuimu.  Mereka bahkan tidak mengerti.  Tidak mengerti apa yang sebenarnya bisa membuatmu bahagia.  Mereka pun hanya bisa menuntut dirimu untuk terus belajar. Belajar. Dan belajar.  Selalu mengungkit kegiatanmu yang sebenarnya positif, tapi dijadikan bahan untuk menyalahkanmu karena nilaimu menurun, jelek, atau karena kamu tidak bisa mengerjakan ulangan di sekolah.

Disaat kamu sudah belajar mati-matian tapi tetap, hasilnya belum memuaskan, bahkan orangtuamu hanya bisa berkata “Kok nggak bisa? Kamu kebanyakan main laptop sih! Kamu pulang malem terus sih! Kamu kurang latihan sih! Makanya kamu tuh belajar!”

Disaat kamu memberi ‘kode’ bahwa kamu jenuh, kamu capek, kamu butuh teman, tapi orangtuamu  tetap tidak mengerti, hanya bertanya “gimana belajar nya?” “pusing ya? Stress? Udah, ulangan gausah dibikin stress” atau “kamu nggak belajar?” .  

Padahal sebenarnya apa yang kamu rasakan diluar dari konteks ‘pelajaran’.  Memang kadang seperti itu, mereka hanya tau kita belajar dan pusing karena pelajaran.  

Padahal sebenarnya tidak hanya itu.  Mereka tetap tidak mengerti.  Tidak memintamu bercerita, tapi malah selalu bercerita tentang masalah mereka masing masing, bahkan ketika kamu duduk diantara mereka pun, mereka masih tetap sibuk dengan ‘bahasan’ mereka.  Seolah-olah tidak peduli denganmu.

Pernah?

Sakit? Iya, saya tahu itu sakit.

Tekanan yang kamu rasa itu datang silih berganti.  Tidak.  Bahkan mereka datang bersamaan, menumpuk di otak dan hatimu.  Semua itu membuatmu linglung, dan bahkan membuatmu menjauh dari teman-temanmu.  Bahkan usahamu untuk tetap bersikap tenang dan tidak peduli dengan tekanan itu pun terasa sulit, berat!  Dan membuat sesuatu bernama TEKANAN itu menjadi MUSUH terbesarmu saat ini.  MUSUH yang harus kau hadapi agar kau tenang.

Ya, MUSUH terbesar, karena TEKANAN itu adalah DIRIMU SENDIRI.

Pernah kau merasakan semua itu?
Lantas apa yang kau lakukan?

Mengeluh? Acuh tak acuh? Tidak peduli? Menangis mungkin? Menyalahkan keadaan?

Jangan.
Saya bilang jangan.

Apakah kau tahu siapakah orang yang HEBAT itu? 
Dia adalah orang yang bisa mengalahkan dirinya sendiri.

Yang harus kau lakukan adalah, BERSYUKUR.  Kenapa? Karena Allah masih sayang padamu.  Dia memberikan semua tekanan itu semata-mata hanya ingin kau ‘naik kelas’, hanya ingin kau lebih maju, lebih dewasa, dan lebih menyayangi-Nya.  Dia memberikan semua itu semata-mata karena Dia sayang padamu.  Tidakkah kau menyadari itu?

Saya tahu, kita tidak bisa sendiri menghadapi itu.  Lantas, memangnya kau pikir kau sendiri?  Kalau iya, kau kemanakan Dia? Dia yang selalu ada bahkan lebih dekat dari urat nadimu.  Dia-lah yang selalu bisa kau percaya, pasti!  Dia yang tidak akan mungkin meninggalkanmu dalam setiap keadaan.  Bukannya malah kau yang sering meninggalkan-Nya? Melupakan-Nya?

Hadapi TEKANAN itu, lawan dirimu sendiri.  Jadi dirimu sendiri.  Kau tidak harus seperti mereka, karena pasti ada sesuatu yang spesial dalam dirimu yang TIDAK MEREKA PUNYA!
Kau tidak harus belajar seperti mereka.  Belajar dengan caramu sendiri.  Semua orang punya caranya masing-masing bukan?

Intinya, TEKANAN dan MASALAH itu ADA untuk DIHADAPI bukan DILEWATI.  Dan mereka ada karena ALLAH sayang sama kita.  Selesaikan dengan cara kita.  Jangan ingin seperti orang lain.  Jadilah dirimu sendiri :)
Be YOURSELF! :D

salam,
anisanza

Posting yang menampar dan menusuk diri sendiri, huft

3 komentar:

  1. Tau rumus P=F/A?
    Secara ga lansung fisika mengajarkan kita tentang cara mengendalikan diri
    pada masalah ini
    P = tekanan
    F = gaya yang berasal dari luar
    A = luas hati lu
    ketika gaya yang di luar itu semakin besar sedangkan hati lu sempit (sering mengeluh dan ga ikhlas) itu yang ngebuat tekanan semakin besar
    terus gimana cara biar tekanan itu kecil?
    Gampang kok
    kuncinya hanya ikhlas dan berbesar hati menerima sesuatu
    toh buat apa merasa terbebani? F aksi kan selalu sama dengan F reaksi jadi ga usah takut
    usaha yang kita lakukan sekarang sama kaya hasil yang kita dapatkan ko :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap!
      sempat terpikir soal itu juga waktu nulis postingan ini..
      makasih yo 'Anonim' *I know who are you hahaha*
      :)

      Hapus
  2. Kehilangan orang kita percaya memang sangat menyakitkan. :(

    BalasHapus