30.11.12

different world - dunia yang berbeda


Dunia yang berbeda.

Itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan semua ini.

Dulu saya dekat dengan mereka.  Dekat karena sering bercerita, sering bersenda gurau, sering membahas masalah yang berkaitan dengan laki-laki.

Saya sudah kenal mereka selama hampir 3 tahun, bukan di sekolah.  Di luar sekolah.  Kami sangat dekat, bahkan sering berbagi lewat sms.  Menangis bersama, tertawa bersama.  Semua hampir karena bahasan yang sama yaitu, laki-laki.

Tapi kini, tanpa saya sadari di awalnya, ternyata makin lama saya makin ‘tersisih’.  Bukan dalam artian jelek.  Tapi saya seperti jauh dengan mereka, menjauh mungkin lebih tepat.  Mereka masih sering membahas bahasan yang sama, laki-laki.  Tapi saya seperti tidak ada diantara mereka.  Saya masih main bersama, tertawa bersama, namun tidak lagi saling berbagi.


Entahlah, apakah saya yang menjauh dengan sendirinya, atau karena saya sudah berbeda dengan mereka.

Ya, saya merasa berbeda (lagi).  Ini sudah yang kesekian kalinya saya merasakan itu.  Saya sendiri bingung.  Saya hanya bisa diam, mereka tertawa saya tertawa, mereka jalan bareng saya ikutan.  Tapi feel nya tidak seperti dulu. 

Mungkin karena bahasan saya, pemikiran saya, dan perasaan saya kini berbeda dengan mereka.  Sendiri.  Lagi-lagi kata-kata itu muncul.  Memang ada hal positifnya.  Saya jadi fokus belajar.  Tapi rasa tidak nyaman ini selalu datang.  Mungkin sayalah yang membuat mereka tidak mau bercerita lagi.

Ya, semua kemungkinan itu ada.  Saya hanya harus berkata, “Jangan takut untuk menjadi berbeda” dan “Jangan takut kalau kau tidak punya teman”

Sakit, lagi lagi.  Kesepian, haha.. saya kesepian.  Ini pernyataan orang galau.  Banyak yang bilang saya tukang galau.  Terserahlah, mungkin mereka nggak pernah merasakan apa yang sedang saya alami terhadap teman-teman dan lingkungan saya.

Seperti sedang beradaptasi di dunia yang baru.

“Anza, masalah lu kok kompleks banget sih? Masalah yang gua alami ga segitunya ah.  Sedih banget sih lu za..”

Itu kata seorang teman.  Hanya tersenyum.  Semakin kompleks masalah itu, berarti semakin sayang pula Allah sama saya.  Saya cuma bisa berpikir seperti itu.

“Ih anzaa.. gua pengen nangis jadinya, kasian banget sih.  Kok masalah lu segitunya..”

Itu kata teman yang sama.  Lagi lagi hanya tersenyum.  Semoga omongan itu ga cuma omongan.  Tapi memang benar-benar rasa empati.

So, terserah kalau saya dibilang tukang galau atau “miss galau”di sekolah.  Karena mereka tidak tahu yang sebenarnya.  Haha..

“Bahkan Abu Bakar pun menyedekahkan seluruh hartanya tanpa meninggalkan sedikit pun untuk istri dan anaknya, tapi dia masih memiliki Allah yang mencintainya dan percaya bahwa Allah akan selalu ada untuk dia dan keluarganya.”

Saya tidak mau dibenci orang, atau ditinggalkan siapapun.  Tapi saya lebih tidak mau dibenci Allah dan ditinggalkan oleh-Nya. :’)

Dunia baru ini semakin rumit.  Saya harap, Allah tetap menyayangi saya dan menjadikan saya makhluk yang Dia cintai :)

salam,
anisanza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar