16.8.12

Mimpi dalam Kesendirian [part 2-end]

Setiap hari Nisa terus menggambar di rumah.  Memang sudah tidak ada kewajiban untuk datang ke sekolah karena sudah H-2 menjelang kelulusan.  Di benaknya selalu bayangan Mas Fajar dan Furqan yang muncul.  Ya, merekalah motivasi Nisa.  Dalam segala hal.
Tiba-tiba pensilnya patah.

“Furqan...”

Hanya itu yang diucapkannya, refleks.  Dia kembali teringat mimpi itu.  Segera dia ambil ponselnya dan menghubungi Furqan.  Tidak ada jawaban.  Tanpa dia sadari, dia menangis...

“Oh baby I can’t stop my love for you..”


Soundtrack Detektif Conan yang menjadi nada dering ponselnya berbunyi.  Tertera nomor tak dikenal di layar.  Nisa bimbang, namun akhirnya dia menjawab telepon itu.

“Assalamu’alaikum...” sapanya
“Wa’alaikumsalam, Nis! Ini gue, Stella.  Lo tau kabar si Furqan nggak sekarang?”
“Emang dia kenapa, Stel?”
“Dia dirawat di rumah sakit!”

Perkataan Stella, sahabatnya, membuat kaki Nisa gemetar.  Untung saat itu dia sedang duduk.  Dia diam, kembali bayangan Mas Fajar dan mimpi itu muncul.

“Nis? Halo, lo masih disana kan?”

Badan Nisa lemas.  Ponselnya tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk.  Keringat dingin membasahi badannya.

****

Berat langkahnya menelusuri koridor rumah sakit itu.  Matanya menatap setiap pintu yang bernomor.  404.  Dia perlahan membuka pintu itu dan menemukan Furqan sedang duduk di kasurnya.

“Nisa? Kamu dateng?” ujar Furqan sedikit terkejut

Nisa hanya terdiam.  Dia berjalan menghampiri Furqan dan lalu meneteskan air mata lagi.

“Kenapa kamu nggak ngabarin aku? Aku khawatir! Kamu tau soal mimpi itu kan? Kamu tega tau nggak!” Nisa memukul mukul lengan Furqan.
“Ah, sakit, Nisa.  Hahaha, aku nggak apa-apa.  Slow...”

Kreek.  Furqan dan Nisa langsung menengok ke arah pintu ketika tiba-tiba pintu terbuka.

“Hey, Di.”

Dian tersenyum menghampiri kasur Furqan sambil membawa sebuah parsel.  Nisa terdiam dan melangkah mundur.  Matanya bergantian menatap Furqan dan Dian, siratan bahagia yang tidak biasa itu tampak.  Dalam hati Nisa menyadari sesuatu.  Tanpa diinginkan pun, rasa perih itu hadir mencubit hati kecilnya.  Nuraninya.

“Gimana keadaanmu, Fur?” tanya Dian melangkah menggantikan tempat Nisa
“Aku baik-baik aja seperti yang kamu lihat.”

Tatapan mereka bertemu.  Nisa merasa, sudah tidak ada artinya lagi berdiri disana.

“Fur, aku duluan ya...”
“Loh, kok buru-buru?” Furqan mengangkat alisnya sambil menyembunyikan sedikit senyuman karena kehadiran Dian disana.
“Ada yang harus aku kerjakan, duluan ya, Dian.”

Furqan dan Dian membiarkan Nisa pergi.  Terpaksa Nisa harus berbohong.  Keluar dari pintu kamar Furqan, Nisa mengeluarkan sesuatu dari tasnya.  Sketchbook berisi sebuah gambar laki-laki dan perempuan, seperti yang pernah digambar oleh Furqan, dan Shinichi.  Tadinya, Nisa berniat menyerahkannya kepada Furqan.  Namun, niat itu diurungkannya karena kedatangan Dian disana.

Ah, mengapa rasanya sakit sekali...

Nisa tidak menyadari, bahwa dia sudah mulai menyukai seorang laki-laki pengganti kakaknya, Furqan.

****

Dengan kebaya biru dan sepatu high heels cokelatnya, Nisa melangkah memasuki gedung serbaguna itu.  Dia sendiri, tanpa orangtuanya dan juga kakak yang sangat ia banggakan.
Wajahnya dihiasi senyum tulusnya hari itu, menutupi segala kegundahan hati.  Menutupi kesepiannya pada hari bahagia itu.  Sebentar lagi ia akan resmi lulus dari bangku SMA, dan akan menjadi seorang mahasiswi, Insya Allah.
Tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa sebenarnya, hatinya sedang menangis.  Dan sebuah rasa yang tak dimengertinya mengenai... Furqan.
Ketika namanya dipanggil, kakinya mantap melangkah maju, naik ke panggung untuk menerima Ijazah serta medali kelulusan.  Predikatnya sebagai siswa berprestasi tahun ini pun, membuatnya mengantongi sebuah piala yang patut dibanggakannya atas kerja kerasnya selama ini.  Di benaknya hanya ada bayangan kedua orangtuanya, Mas Fajar, dan Furqan.
Entah kenapa bayangan Furqan selalu muncul.  Bahkan sampai dia turun dari panggung.

“Hei adik kecilku!”
Nisa menoleh, “Furqan...”
“Selamat ya atas kelulusanmu, dan kelulusan kita mungkin.  Hahaha...” Furqan tertawa dan mengelus kepala adiknya itu.
Nisa hanya tersenyum, “Gimana sama Dian?” Nisa tidak mengerti kenapa pertanyaan itu muncul dan keluar dari mulutnya.
“Ah Dian! Baik-baik aja, hehehe...  Abis ini kita mau jalan, mau ikut?”
“Jalan? Eh, nanya dong...  Kamu saling suka ya sama Dian? Hayoo ngakuu!”
“Hehehe...”

Tawa kecil dari Furqan sudah menjawab pertanyaan Nisa.  Sebenarnya, Nisa sudah menduga itu dari awal.  Pertanyaan barusan hanyalah sebuah cara untuk membuktikan dugaan itu.

“Eh, aku duluan ya, dik! Sekali lagi selamat atas pencapaiannya...  See You!

Nisa membalas lambaian Furqan.  Dia berjalan keluar gedung, menatap cerahnya langit biru saat itu.  Tiba-tiba bayangan Mas Fajar muncul di hadapannya.  Nisa nyaris tidak mempercayai apa yang dia lihat.  Tapi dia hanya tersenyum.

“Mas... Mas Fajar pernah merasakan suka sama orang? Nisa yakin, pernah.  Tapi, sepertinya kali ini Nisa hanya cukup melihat orang itu sebagai kakak Nisa, kakak pengganti Mas Fajar.  Nisa nggak boleh suka sama dia, Mas.  Dia udah suka sama temen Nisa.
Cukuplah dia jadi kakak Nisa aja, Nisa udah seneng kok, Mas.  Mas Fajar jangan khawatir ya...  Mas Fajar jagain mama sama papa aja.  Insya Allah, Nisa akan terus tersenyum.  Furqan mirip banget sama Mas Fajar.  Cukuplah Nisa menganggap dia kakak Nisa tanpa harus merasakan perasaan lain.  Iya kan, Mas?
Do’akan Nisa, Nisa kangen banget sama Mas Fajar, sama mama, sama papa juga...”

Air mata Nisa menetes.  Kakinya lemas dan saat dia hampir terjatuh, seseorang menangkapnya.  Furqan.

“Nisa, kamu kenapa?”

Nisa hanya bisa menangis saat itu.  Ia rindu keluarganya.  Berat rasanya hidup sendiri tanpa keluarga disisinya.  Meski masih ada yang adik ibunya yang bisa merawatnya, rasanya berbeda.  Sepi jika harus merasakan kebahagiaan itu sendirian.
Furqan hanya memeluk Nisa, dan membiarkan tangisan Nisa keluar.  Furqan sadar, berat bagi Nisa menanggung ini semua di hari kelulusannya.  Nisa sudah terlalu kuat untuk menahan itu semua.  Kini, Furqan membiarkan bahunya basah, demi adiknya itu, tanpa mengetahui bagaimana perasaan Nisa yang sebenarnya terhadap dirinya.
_THE END_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar