16.8.12

Mimpi dalam Kesendirian [part 1]

Kutemukan diriku basah kuyup diatas kasur.  Aku berkeringat.  Kuingat kembali mimpi semalam itu.  Mobil, bus, dan... MAS FAJAR!
Segera kuturuni tangga, mencari Mas Fajar di seantero rumah.  Kudengar televisi menyala di ruang tengah, dan kulihat kakakku itu duduk santai sambil membereskan barang-barangnya.  Kuhampiri dia.

“Mas Fajar... besok jadi pergi ke Bandung?” ujarku dengan perasaan was-was
“Eh, Nisa.  Kok masih bangun?” ujar Mas Fajar sambil melirik jam tangannya, “Ini kan masih jam 12 malem.”
“Mas Fajar jangan pergi ya...” aku memelas, duduk di samping kakakku satu-satunya ini
“Kenapa? Kok kamu tiba tiba sih, dik?” jawabnya sambil tersenyum
“Nisa... Nisa mimpi, Mas Fajar, ngga pulang ke rumah lagi.”


Aku menunduk, tidak melihat reaksi Mas-ku saat itu.  Kurasakan tangannya membelai kepalaku dengan lembut, “Nisa, kamu tenang aja.  Mas nggak apa-apa kok, itu kan cuma mimpi.  Mas janji, lusa saat kelulusan SMPnya Nisa, Mas pasti sudah ada disana.  Nisa tenang ya...” Suaranya sangat lembut, menusuk hatiku.  Tanpa sadar aku menangis.

“Tapi...  Nanti Nisa... Nisa sama siapa, Mas?”
“Kan ada Om Agus, sudah ya.  Adik mas yang cantik ini jangan nangis, nanti cantiknya ilang lho...”

Aku tersenyum saat Mas Fajar menghapus air mataku.  Dia tak pernah berubah.  Pembawaannya yang tenang, senyum hangatnya, cukuplah itu membuatku sedikit tenang.  Aku memeluknya, dan masih tidak dapat menahan air mata ketika kuingat mimpi semalam.  Mas Fajar...  Nisa takut...

****

“Mas Fajar... Mas Fajaaar...”

Om Agus memegang diriku yang menangis hebat dengan erat.  Tubuhku lemas setelah mendengar kabar itu.  Sebuah bus menabrak Mas Fajar yang naik motor.  Kondisinya kritis.  Kembali kuingat mimpi itu.  Lemas.

“Innalillahi wa innailaihi rooji’un... Fajar sudah dipanggil oleh-Nya.”

Kalimat itu, kalimat yang diucapkan dokter bagaikan panah yang ditancapkan ke dadaku.  Sakit.  Mas Fajar, hanya dia keluargaku satu-satunya setelah Papa dan Mama pergi.  Mas Fajar, hanya dia yang menjagaku sampai aku lulus SMP, bahkan dia tidak sempat melihatku lulus.  Mas Fajar...
Aku tidak dapat lagi mendengar suara disekitarku.  Semua mendadak samar.  Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.  Gelap, segelap hatiku saat itu...

****

“Oh... jadi, kakakmu pergi 3 tahun yang lalu?” tanya Furqan, teman dekat Nisa.
“Yap.  Menjelang aku lulus SMP, em... Sehari sebelum hari kelulusanku.” Jawab Nisa yang lantas menyeruput es kelapanya.

Mereka sedang duduk di kantin, menghabiskan waktu terakhir mereka, menjelang kelulusan SMA.

“Kamu lagi ngapain sih?” tanya Nisa sedikit penasaran melihat temannya yang sibuk menggerak-gerakkan pensil.
“Hm? Ah, kau punya penghapus?” Furqan mengangkat sketchbooknya yang selalu dia bawa kemana-mana itu.
“Ada di kelas.  Itu gambar apa?”
“Oh, ini... menurutmu apa?”

Furqan menaruh sketchbooknya di hadapan Nisa.  Ada gambar seorang perempuan yang tertawa bahagia bersama seorang laki-laki yang terlihat lebih tua daripada perempuan itu.  Dan mereka sedang duduk disebuah kursi taman.

“Ini...”
“Ah, tidak mirip.  Tadinya aku mau menggambar dirimu dengan kakakmu.  Tapi aku kan nggak tau gimana wajah kakakmu, jadi ya... begitulah jadinya.”
Nisa tersenyum, “Ini bagus.  Bagus banget!”
“Kalo kamu mau, ambil aja.  Lagian aku gambar itu emang buat kamu, biar kamu ngga sedih lagi.  Bentar lagi kita kan mau lulus.” ujar Furqan sambil menepuk bahu Nisa.
“Kamu, mirip sama kakak aku...” Nisa mengalihkan pandangan.  Dia berdiri, dan berjalan keluar kantin.  Menatap langit biru yang cerah.  Melihat bayangan Mas Fajar yang tersenyum kepadanya.

Furqan menghampiri Nisa dan tersenyum di sampingnya, “Kalo begitu, anggaplah aku kakakmu.  Oke adik manis?”
Nisa menatap Furqan, “Tentu... “ dia tersenyum dan melanjutkan, “Kakak...”

****

Aku berdiri di depan sebuah bangunan putih.  Aku tak tahu apa itu.  Ku berjalan masuk, terus meyusuri lorong-lorong yang ada.  Tiba-tiba sebuah pintu muncul di hadapanku.
Aku bingung.  Kuputar kenop pintunya, dan masuk.

FURQAN!

Selang infus menyambung di tangannya.  Dia terpejam, terlihat lemah.  Ada apa ini?!

“Furqan! Bangun!”

Kuteriakkan namanya, dan ia tak kembali sadar.  Badanku gemetar.  Dan semua kembali gelap.

****

Lagi-lagi, bagai deja vu, Nisa menemukan dirinya gemetar, berkeringat.  Diliriknya jam yang ada di meja.  4.55.  Sebentar lagi subuh.  Dan tak lama adzan subuh terdengar.  Terlintas dipikirannya untuk langsung meraih ponsel di meja dan mengirim pesan ke Furqan.  Namun,

“Nisa, bangun gih, udah subuh tuh!” Tante Asri memanggil

Nisa menunda niatnya.  Dia berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu lalu sholat berjama’ah.
Di benaknya, mimpi malam itu masih terbayang.  Dia tak dapat fokus dalam sholatnya.  Dia terus berdo’a semoga tak terjadi apa apa pada Furqan.  Nisa menarik nafas panjang.
Seusai sholat, langsung dia raih ponselnya yang sudah dipindahkan ke atas kulkas, dan mengirim pesan ke Furqan.  Lama, smsnya tidak di balas, bahkan sampai dia berangkat ke sekolah.  Rasa takut merasukinya.

****

“NIS!” Furqan berlari dan menyentuh bahu Nisa yang sedang masuk kelas.  “Maaf, aku nggak ada pulsa, jadi smsmu nggak aku bales.  Emang ada apa sih?”
Nisa menatap Furqan miris.  Lalu tersenyum, “Kamu nggak kenapa-napa kan?  Atau kamu lagi kurang enak badan?”
Dahi Furqan mengkerut, “Aku, sehat, ya sedikit flu bukan masalah.  Memang ada apa?”
Nisa menggeleng, “Tidak, ayo masuk.”

****

“Aku takut, Fur.  Aku takut mimpi itu kaya yang terjadi sama Mas Fajar.” Nisa menatap minumannya di kantin.
“Udahlah, tenang aja, Nis.  Aku nggak apa-apa kok.  Itu cuma mimpi, adikku...” Furqan tersenyum mengangkat kepala Nisa.
“Lagi-lagi, kamu persis sama Mas Fajar.”
“Loh? Bukannya aku emang mas-mu? Hahaha...”
Nisa akhirnya tertawa, “Hahaha, ohiya, Fur.  Ajarin aku gambar dong.  Aku gabisa gambar.”
“Hm? Emang kamu mau gambar apa?”
“Apa ya? Aku juga nggak tau... hahaha, atau kamu gambarin aku Shinichi, dia kan keren!”
“Yaudah gambar aja!  Lagian kerenan aku daripada Shinichi! Huh..” Furqan cemberut.
“Ih, apaan sih? Hahaha, gausah pasang tampang gitu, malesin banget!  Ayolaah, aku kan gabisa gambar...”  Nisa memelas sambil memohon di depan Furqan.
“Adikku Nisa, nggak ada orang yang nggak bisa gambar.  Semua orang bisa gambar kok.  Ya? Kamu juga pasti bisa, coba aja deh!”

Nisa berpikir, ya, mungkin memang benar apa yang dikatakan Furqan.  Mulai sekarang, Nisa bertekad untuk percaya diri dalam menggambar.  Dia akan membeli sketchbook seperti Furqan.

****

Setiap hari Nisa terus menggambar di rumah.  Memang sudah tidak ada kewajiban untuk datang ke sekolah karena sudah H-2 menjelang kelulusan.  Di benaknya selalu bayangan Mas Fajar dan Furqan yang muncul.  Ya, merekalah motivasi Nisa.  Dalam segala hal.
Tiba-tiba pensilnya patah.

“Furqan...”
(bersambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar