19.8.12

Idul Fithri


Raga ini, bagaikan tinta yang menodai putihnya kertas
Lidah ini, bagaikan pisau yang dapat menorehkan luka di hati
Sungguh...
Andaikan tinta itu dapat dihapus
Andaikan luka itu dapat hilang
Aku ingin melakukannya...

Tidak ada manusia yang tak pernah ternoda
Entah noda kecil, maupun noda besar
Tidak ada manusia yang tak pernah terluka

16.8.12

Mimpi dalam Kesendirian [part 2-end]

Setiap hari Nisa terus menggambar di rumah.  Memang sudah tidak ada kewajiban untuk datang ke sekolah karena sudah H-2 menjelang kelulusan.  Di benaknya selalu bayangan Mas Fajar dan Furqan yang muncul.  Ya, merekalah motivasi Nisa.  Dalam segala hal.
Tiba-tiba pensilnya patah.

“Furqan...”

Hanya itu yang diucapkannya, refleks.  Dia kembali teringat mimpi itu.  Segera dia ambil ponselnya dan menghubungi Furqan.  Tidak ada jawaban.  Tanpa dia sadari, dia menangis...

“Oh baby I can’t stop my love for you..”

Mimpi dalam Kesendirian [part 1]

Kutemukan diriku basah kuyup diatas kasur.  Aku berkeringat.  Kuingat kembali mimpi semalam itu.  Mobil, bus, dan... MAS FAJAR!
Segera kuturuni tangga, mencari Mas Fajar di seantero rumah.  Kudengar televisi menyala di ruang tengah, dan kulihat kakakku itu duduk santai sambil membereskan barang-barangnya.  Kuhampiri dia.

“Mas Fajar... besok jadi pergi ke Bandung?” ujarku dengan perasaan was-was
“Eh, Nisa.  Kok masih bangun?” ujar Mas Fajar sambil melirik jam tangannya, “Ini kan masih jam 12 malem.”
“Mas Fajar jangan pergi ya...” aku memelas, duduk di samping kakakku satu-satunya ini
“Kenapa? Kok kamu tiba tiba sih, dik?” jawabnya sambil tersenyum
“Nisa... Nisa mimpi, Mas Fajar, ngga pulang ke rumah lagi.”

5.8.12

"mbak tidur udah malem.."
"mbak kamu besok bangun pagi, tidur sana.."


tapi aku gabisa.. aku takut.. aku masih takut menerima kenyataan bahwa 'besok' akan datang.
aku masih takut menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar aku akan bertemu 'mereka'.
aku masih takut menerima kenyataan bahwa semuanya akan berubah..
aku takut..


apa aku harus jujur?