12.8.10

Kenyataannya... (end)

Samar-samar kudengar suara yang sangat kukenal. Ya, ibuku. Kapan ibu berada di kamarku? Aku masih memejamkan mata. Aku kembali melihat siluet kejadian lalu. Kepalaku pusing. Aku tak mau mengingat kejadian itu. Kejadian yang miris, dan membuat hatiku teriris.

Aku mendengar ibuku berkata, “Aku tak tahu harus bagaimana... Ara belum sadarkan diri selama tiga hari ini. Padahal dokter bilang, dia akan sadar setelah perban di kakinya dibuka. Tapi apa hubungannya perban dibuka dengan kesadaran seorang gadis...” Ibuku menangis. Seseorang yang diajaknya mengobrol berusaha menenangkan ibuku.

Tunggu! Tiga hari aku tak sadarkan diri, perban kaki yang dibuka, ah! Lantas apa yang aku alami selama tiga hari ini. Kakiku diamputasi, pemuda itu, dan... gadis itu? Apakah semua itu hanya mimpi? Bunga tidur?

Aku masih memejamkan mata. Mencoba meraba kakiku. Dan, UTUH! Kakiku utuh, tidak ada bekas amputasi atau semacamnya. Akupun menyadari kejadian itu, pemuda itu, dan aku yang berada di kursi roda hanyalah sebagian kecil dari bunga tidur traumaku akan kecelakaan itu. Akhirnya, kucoba membuka mataku.

“Ara, kamu sudah sadar, nak? Syukurlaah... Mama sangat khawatir kamu tidak sadarkan diri selama 3 hari ini. Nak, kenalkan, ini teman mama yang ikut membantu meringankan beban biaya rumah sakitmu.”

Aku memperkenalkan diri, “Ara, senang bertemu tante...”

Wanita itu membalas, “Mungkin kamu akan lebih senang jika bertemu dengan anak tante.”

“Apakah itu tidak terlalu cepat?” ibuku bertanya. Apanya yang terlalu cepat? Aku bingung.

“Lebih baik kamu jelaskan dulu saja kepada anakmu...”

“Baiklah,” aku masih memasang wajah bingung. “Begini nak,” ibuku melanjutkan, “Mama dan Tante Ine dulu adalah teman sewaktu kuliah. Kami pernah membuat janji, apabila dewasa nanti kami memiliki anak laki-laki atau perempuan akan kami jodohkan. Sebaliknya, jika anak kami sama-sama perempuan, akan kami jadikan sahabat seperti kami.

“Berhubung kamu perempuan dan anak Tante Ine laki-laki, kami sepakat untuk menjodohkan kalian berdua.”

Apa maksudnya ini! Memangnya masih jaman Siti Nurbaya! Aku kecewa, hatiku perih. Aku kini semakin terbayang dengan pemuda dalam mimpiku. Aku menyukainya. Tolong ma, jangan jodohkan aku dengan orang yang tak kukenal, aku membatin. Tapi itu hanya mimpi, belum tentu aku akan bertemu dengan pemuda dalam mimpiku. Mustahil.

“Nah, kami baru bertemu kemarin dan entah mengapa Tante Ine buru-buru memberitahumu tentang hal ini.” Kata ibuku

“Lalu, siapa orangnya, ma?” aku bertanya

“Dika, masuk nak!” panggil Tante Ine

Pemuda itu masuk. Dan, hampir saja aku terlonjak dari kasurku. Dia...

“Kenalkan Ara, ini Dika anak tante.” Tante Ine langsung menyuruhnya menyalamiku

“Dika.”

“A-ra.” Aku gugup. Apa aku masih bermimpi? Dika, dia... Oh, Tuhan, dia sungguh persis dengan pemuda dalam mimpiku. Apa aku bermimpi?

“Ehm, Dika dan Bu Ratna, saya mau berbicara berdua dengan Ara sebentar boleh? Nanti baru Dika yang melanjutkan perkenalannya dengan Ara.” Kata Tante Ine

“Baik. Tak masalah. Ayo Dika.” Ajak ibuku pada Dika

Setelah mereka keluar, aku semakin bingung, ada apa lagi ini?

“Ini bukan mimpi sayang,” kata Tante Ine tiba-tiba. “Mungkin yang ada di dalam mimpimu dua atau tiga hari kemarin memang pertanda kamu akan bertemu dengan Dika, meski kamu belum pernah mengenal dia sebelumnya...”

Hah?! Tante Ine tahu apa yang aku pikirkan? Mengapa...

“Tante tahu, kamu bingung kenapa tante tahu apa yang ada dipikiranmu. Tante akan memberitahumu kalau memang sudah saatnya.” Lagi-lagi Tante Ine tahu apa yang aku pikirkan.

“Dika sudah menunggu, sebaiknya kita lanjutkan obrolan kita lain waktu. Kamu baik-baik sama Dika ya, nak. Tante keluar dulu.”

Ketika Tante Ine keluar, Dika masuk ke dalam. Entah mengapa jantungku kembali berdebar. Dia menawarkanku apel lalu mengupaskannya. Kami pun mengobrol panjang lebar dan aku sudah bisa nyaman mengobrol dengannya. Terkadang kami tertawa karena lelucon Dika yang sangat menghibur karena kelucuannya. Samar-samar kulihat bayangan Tante Ine tersenyum dibalik pintu yang menerawang itu.

Ya Allah ya Tuhanku, semoga kali ini bukan mimpi. Semoga Dika memang jodohku yang Engkau tuliskan jauh sebelum aku lahir.

(TAMAT)

Kenyataannya... (part 1)

Aku termenung di kursi rodaku. Aku seorang gadis yang sudah tak bisa apa-apa lagi. Aku lumpuh dan kakiku harus diamputasi karena kecelakaan yang menimpa keluargaku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Umurku masih 14 tahun. Jika aku dewasa nanti, adakah yang mau melirik seorang gadis sepertiku yang sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi? Sungguh, aku sedang dilanda cinta. Ada seorang pemuda yang kusukai. Tapi, apakah dia mau melihatku dalam keadaan seperti ini? Kurasa tidak...

Saat ini, aku berada di luar kamarku. Aku berusaha melupakan laki-laki yang kusukai di sekolahku. Percuma. Dia tidak akan mau menjadikanku bagian dari hidupnya. Pikiranku beralih ke pendidikanku. Aku sudah tamat SMP dan akan melanjutkan ke SMA. Tapi, aku tak yakin orang tuaku akan memasukkanku ke SMA meski aku bisa. Aku yakin orangtuaku hanya akan merawat-ku di rumah dan membiarkanku bersekolah di rumah. Aku juga yakin aku tidak akan bisa melanjutkan hobiku dan mengapai citaku menjadi pemain basket nasional. Yaah, aku harus bisa menerima takdir ini.

Tiba-tiba aku melihat sosok itu. Dia seperti berjalan ke arahku. Jantungku berdebar. Tapi prasangkaku salah. Dia membelok dan ke meja administrasi. Untuk apa? Aku terus memperhatikannya. Rupanya dia menuju kamar seseorang yang tak kukenal. Pemuda itu... Mengapa aku berharap dia menjengukku? Mengapa hatiku merasa rindu sekali padanya? Aku tak tahu siapa dia. Aku hanya sekilas melihat wajahnya. Akupun kembali ke kamarku dan tertidur.

Keesokkan harinya, aku keluar menyusuri taman. Ah, aku lupa. Aku lupa memberitahu kalian mengapa aku bisa sebebas ini berkeliaran di rumah sakit. Orangtuaku sudah pulang lebih dulu karena mereka tak separah aku. Mereka harus bekerja mencari uang untuk membayar biaya pengobatanku yang belum lunas. Mahal. Itulah alasan utamanya. Para suster dan dokter pun sudah mengenalku karena aku menakjubkan bagi mereka. Aku sudah di vonis tak bisa diselamatkan. Tapi Tuhan berkata lain. Dia memberiku keajaiban sehingga aku bisa seperti ini, Hidup. Meski kakiku harus diamputasi.

Menyusuri taman rumah sakit yang indah merupakan salah satu kebiasaanku saat aku bangun pada pagi hari. Sambil menunggu suster mengajakku mandi, aku menikmati keindahan taman ini. Aku menyukai taman ini karena penuh dengan bunga. Dan bunga mawar khususnya. Entah mengapa, mawar bagiku merupakan lambang kehidupan. Jika kau mau melihat mawar, maka berjuanglah untuk hidup. Itulah mottoku sekarang.

Tapi, tiba-tiba, aku melihat sosok pemuda itu lagi. Jantungku berdebar dua kali lipat. Apa yang terjadi dengan diriku? Aku bingung. Ketika aku melihatnya lagi, matanya... Matanya bertemu dengan mataku. Oh, Tuhan, apa maksudnya ini. Mulutnya bergerak seperti mengajakku mengobrol. Akupun bertanya padanya, “Hei, kau berbicara denganku?” Dia mengangguk. Aku tersentak. Saat aku akan melontarkan pertanyaan padanya, dia berjalan. Kearahku. Tuhaan, hentikan detak jantungku yang semakin kencang. Tapi, dia melewatiku. Aku bingung, dan aku melihat kemana arah dia berjalan. Ternyata dia menuju ke tempat seorang gadis yang, ah, aku tak melihat wajahnya. Dia tersenyum ke arah gadis itu. Mereka duduk di bangku taman yang dikelilingi berbagai macam bunga mawar.

Seketika itu juga, hatiku terasa teriris. Aku ingin teriak. Tapi entah mengapa saat itu suaraku tidak keluar. Aku ingin menangis, tapi air mataku pun tak bisa keluar. Ada apa gerangan dengan semua ini? Apa ini yang dinamakan cemburu? Atau cinta? Ah, akupun tak mengerti arti sebenarnya dari kedua kata itu.

Aku segera mengayuhkan kursi rodaku menuju kamar. Tapi mataku buram. Air mata yang kutunggu akhirnya keluar sedikit demi sedikit. Tapi itu membuatku tak bisa melihat apapun. Aku tetap mengayuh kursi rodaku dengan cepat. Entah aku akan menabrak atau tidak aku tak peduli.

Ketika aku sampai di depan kamarku, semua menjadi hitam...

(bersambung)

11.8.10

Saat Terakhir (end)

Yosa kehabisan darah dan meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. Ana menangis sejadi-jadinya. Dia menyesal melewatkan saat terakhirnya dengan Yosa seperti ini. Ana merasa sangat kehilangan sosok seorang sahabat yang peduli, dan perhatian padanya.

****

Setelah acara pemakaman Yosa selesai. Ana langsung pergi ke tempat yang Yosa bilang. Di sana ada sebuah gundukan yang terlihat masih sangat baru. Ana langsung menggali gundukan itu dan dia menemukan sebuah kotak berwarna biru.

Ana sangat terkejut ketika melihat isi dari kotak itu. Moonlight Waltz-buku yang diinginkannya-juga sebuah kalung bergantung bulan dan bintang serta sepucuk surat yang ditulis di kertas berwarna kuning dengan tinta warna-warni . Ana pun membaca surat itu,

Bogor, 14 Desember 2009
Dear Ana,

Em, hai An… Gue bingung mau mulai dari mana. Sebelumnya, gue minta mau minta maaf dulu sama lo, gue uda ngediemin lo sampe akhirnya lo marah sama gue. Jujur, gue sebenernya ga mau musuhan kaya gini sama lo, apa lagi di detik-detik terakhir hidup gue.

Lo pasti tau, gue ga masuk sekolah waktu itu, karena gue cek ke dokter. Dan gue kaget dengan hasil yang ada. Gue uda terserang hemophilia akut, dan dokter bilang hidup gue ga nentu. Kalo gue terluka parah, gue bisa langsung pergi-lo pasti tau maksudnya-makanya gue ga mau ngasih tau lo tentang ini karena gue takut lo khawatir dan gue ga mau lo ngekhawatirin gue. Gue diem biar lo bisa jauh dan ga bakal tau ini semua. Maafin gue Ana …

Oiya, soal buku sama kalung. Gue liat lo lagi megang buku itu dan kayanya lo pengen banget beli. Tapi waktu gue liat lo ga jadi beli, gue pikir mungkin uang lo kurang, jadi waktu lo pergi gue beli deh tu buku, hehehe… Terus gue juga pengen ngasih sesuatu ke lo sebagai tanda maaf gue. Pergilah gue ke toko pernak pernik. Akhirnya gue nemu tuh kalung. Dan menurut gue itu cocok kalo lo yang make. Jadi, gue beli deh… Lo suka kan? Gue harap sih lo suka.

Satu lagi, lo tau gue suka sama seseorang? Sekarang mau gue kasih tau orang itu siapa. Ya, orang itu LO, ANA MUTIARA. Sekarang lo uda tau, tapi gue ga mau persahabatan kita jadi renggang karena ini. Ok, An..?

Uda dulu ya, gue harap lo maafin gue … daahh …

Ana tidak dapat berhenti menitikkan air mata. Dia sangat menyesal dengan semua yang telah dia lakukan. Sekarang dia sudah tidak bisa bertemu lagi dengan Yosa.

“Gue akan selalu ada disini, di hati lo…” kata-kata itu selalu terngiang di benaknya. “Yos, selamanya gue ga akan pernah ngelupain lo, ngelupain kenangan kita saat kita masih bersama, saat kita masih bisa bercanda tawa, saat kita bertengkar dan semua kata-kata lo akan selalu gue inget. Walaupun lo udah ada di sana, di alam yang lain, yang berbeda dari gue…”
****

(TAMAT)

10.8.10

Saat Terakhir (part 2)

Esoknya di sekolah,
“Heii, Yosa !!!” panggil Ana
“Udah sembuh lo ?”
Yosa hanya diam,
“Lo kenapa sih, Yos? Dari kemaren diem aja?”

Yosa tetap diam dan melihat ke sekitarnya. “Hei, Den!” Yosa memanggil Raden dan berlalu pergi meninggalkan Ana sendiri.

“YOSA!!!” Ana mengejar Yosa
“Yos, lo kenapa sih? Lo marah sama gua hah?! Lo kesel ama gua? Jawab, Yos! Jangan diem aja!”

Yosa tetap berjalan dan tidak memperdulikan Ana.

“Oke, Yos, kalo itu mau lo! Jangan pernah bersikap seperti lo kenal gue! Dan kita ga sahabatan lagi! GUE BENCI SAMA LO!!!!”

Ana pun berlari meninggalkan Yosa sambil menangis. Yosa berbalik ingin mengejar Ana tapi dia mengurung niatnya. Ada apa dengan Yosa?

Seminggu berlalu, Ana dan Yosa masih tetap musuhan. Ana yang biasanya sebangku dengan Yosa pindah tempat. Saat istirahat, Ana ke toko buku dekat sekolahnya. Kebetulan di sana ada toko buku yang lumayan bagus-bagus bukunya dan waktu istirahatnya lumayan lama, 30 menit. Ana menuju ke rak NOVEL LARIS. Dia tertarik dengan sebuah buku yang berjudul Moonlight Waltz. Tapi sayang, uangnya hanya setengahnya dari buku itu. Akhirnya dia pun berlalu dengan wajah sedih.

Tanpa disadari, Yosa melihatnya dari jauh. Setelah Ana pergi, Yosa masuk ke toko itu dan membeli buku yang tadi Ana inginkan. Setelah itu, Yosa menuju ke toko pernak-pernik. Setelah melihat-lihat, Yosa menemukan sebuah kalung. Gantungan kalung itu berbentuk Bulan dan Bintang yang menjadi satu. Yosa tertarik dan membelinya untuk Ana. Dia meminta pelayan toko itu untuk membungkus kalung bersama buku yang tadi dibelinya ke dalam sebuah kotak. Dia juga menyelipkan sebuah surat ke dalam kotak itu.

Kembalinya ke sekolah, Yosa langsung menuju tempat dimana dia dan Ana sering mengobrol bersama, di taman belakang sekolah. Yosa mengubur kotak itu dan berencana akan memberitahu Ana tempat disembunyikannya barang itu.

Sepulang sekolah, Yosa melihat Ana ada di seberang jalan. “ANA!!!” Yosa mencoba memanggil, tetapi Ana tidak memperdulikannya. Akhirnya Yosa mengejarnya. Tiba-tiba…

BRAAAAKK …

Sebuah mobil kijang melaju kencang dan menabrak Yosa. “YOSAAAA!!!!!!!” Ana menjerit dan menghampiri Yosa. “Yos… Yosa… Lo ga apa-apa? Yosa! Sadar, Yos!!! TOLOOONG, TOLONG PANGGILKAN AMBULANCE!!!!”

“Yos, maafin gue, Yos… Lo bangun dong!!!” Ana sesegukan di dalam ambulance sambil menggenggam tangan Yosa.
“An… Ana…” Yosa merintih
“Yosa! Lo sadar kan? Yos, maafin gue…”
“Lo ga salah, An. Gggue yyang ssallah sama lo.” Ujar Yosa terbata-bata
“Yos, lo kenapa diem waktu itu? Gue sebenernya ga mau musuhan sama lo kaya gini…”
“Lo bakal tau semuanya, ttapi nggak disini…” jawab Yosa lalu melanjutkan, “Ccoba lo ke tttaman belakang sekolah, tempat kita sseriing banget ngobrol… Ddisana gue ngubur semuanya, dan llo bbakal tttau alesan gue ddiem ke lo. Gue akan selalu ada di sini, An… Di hati lo.” Ujar Yosa melanjutkan kalimat terakhirnya sambil menyentuh dada Ana. Yosa pun tersenyum pada Ana untuk yang terakhir kalinya.

“Yos? Yosa? YOSAAA!!! Jangan tinggalin gue! Gue belum bilang kalo orang yang gue suka itu lo!!! YOSA!! YOSAAAA!!!!!!”

(bersambung)

Saat Terakhir (part 1)

Aku bikin cerita ini agak ngasal .. jadi maaf kalo jelek .. :)

Pagi itu Ana baru tiba di sekolahnya. Dia langsung mencari Yosa, sahabatnya. Ana dan Yosa adalah murid kelas 2 SMP di sebuah SMP negeri di Bogor. Mereka berdua sudah bersahabat sejak kelas 6 SD. Meski baru 2 tahun bersahabat, mereka sudah seperti saudara dan saling mengetahui satu sama lain.
“Heii … Yosa …” Ana bertemu Yosa di depan kelas
“Kenapa, An?”
“Ngga kenapa-napa kok, Cuma manggil aja.”
“…”
“Eh, uda sarapan belom?” Tanya Ana lagi
“Belom. Kenapa? Mau traktir gue yaaa?”
“Huu… Mau makan nggak? Ayo ke kantin.”

Mereka akhirnya pergi ke kantin. Ana yang lumayan cerewet bercerita banyak sekali pada Yosa tentang liburan hari Minggunya kemarin. Berhubung belum pada sarapan, saat sampai di kantin mereka langsung memesan makanannya masing-masing.

“Bu, nasi goreng 2 ya…” pesan Ana
“Teh manis juga 2.” pesan Yosa
“Emm, Yos, lo lagi suka sama seseorang ngga?” Ana membuka pembicaraan
“Emang kenapa? Lo lagi suka yaa? Sama siapa? Cerita donk…”
“Jawab aja dulu.”
“Ehm, iya sih, tapi lo belum boleh tau.” Jawab Yosa sok rahasia
“Anak mana? Kenapa belom boleh tau? Kita kan sahabatan.”
“Anak sini kok. Iya, tapi nanti aja kalo waktunya udah pas. Lo sendiri?”
“Gue sih, uda suka sama orang ini dari dulu. Tapi gue ngga tau gimana perasaan dia ke gue.”
“Emang siapa, An?”
“Dia… Ah, engga ah. Gue malu, ntar aja kapan-kapan, anak sekolah kita juga kok, ntar juga tau. Hahaha, tuh nasi gorengnya udah dateng makan dulu yuk!”

Ana dan Yosa saling penasaran sama seseorang yang sama-sama mereka sembunyikan. Ketika sedang enak-enaknya mereka makan, tiba-tiba…

“Yos, hidung lo kenapa? Lo lagi sakit?” ujar Ana sambil mengelap hidung Yosa dengan tisu
“Hah?” Yosa meraba hidungnya. “Gue mimisan? Kenapa nih?”
“Udah deh, Yos. Sekarang gue bawa lo ke klinik ya.”

Ana yang panik, langsung membawa Yosa ke klinik. Yosa yang bingung dengan keadaannya hanya bisa diam sampai di klinik.
****
“Aduh, de … Emang kamu kenapa bisa mimisan gini?” Tanya perawat di klinik
“Gatau nih mbak, saya aja nggak nyadar. Tuh, si Ana yang pertama kali liat.”
“Waah, kalian pacaran yaaa??”
“ENGGAK KO MBAK!!!!” Ana dan Yosa menjawab bersamaan
“Ehm, gimana mbak? Saya ga kenapa-napa kan?” ujar Yosa mengalihkan pembicaraan
“Gimana ya? Peralatan disini kan kurang lengkap. Pesen saya sih jangan kecapean aja dik, terus kalo mau lebih yakin sama keadaan adik mending ke dokter deh.”
“Yaudah mbak kalo gitu. Makasih mbak…”
Mereka pun meninggalkan klinik dan kembali mengikuti pelajaran. Karena khawatir, Ana pun mengantar Yosa pulang saat bel sudah berbunyi 4 kali.
****
Esoknya, Ana tidak menemukan Yosa di sekolah. “Kayaknya ko sepi ya ga ada Yosa?” ujar Ana membatin. “Ah, mungkin dia ke dokter, ntar dijenguk aja deh.” Ana pun masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Sesekali Ana melirik bangku kosong disebelahnya. Ya, itu bangku Yosa. Dugaan Ana tidak salah, Yosa memang cek ke dokter dan izin 1 hari.

Sepulang sekolah, Ana langsung pergi ke rumah Yosa seperti rencananya tadi.
“Assalamualaikum…” Ana mengetuk pintu rumah Yosa
“Waalaikumsalam… Eh, Ana. Cari Yosa ya? Yosa ada di kamarnya, masuk aja.” Mamanya Yosa membukakan pintu dan membiarkan Ana masuk.
Ketika Ana sudah di depan kamar Yosa, “Yosa… Lo di dalem kan?”. Yosa membukakan pintu dan menyuruh Ana masuk. “Kenapa lo? Suntuk banget abis cek? Ga ada apa-apa kan ama keadaan lo?”, Yosa hanya menggeleng. “Oia, tau ga? Tadi gue ga ketemu dong sama orang yang gue suka! Soalnya gue ga keluar kelas, hahahaha…” Yosa hanya tersenyum simpul.
“Eemm, Yos, tadi ada tugas mate hal 56 nomer 1 sampe 25. Jangan lupa kerjain ya… Oia, satu lagi fisika besok ulangan bab Gaya. Jangan lupa ya. Btw, lo kangen ga ama cewe yang lo suka? Kan lo ga masuk sehari tuh?” Yosa hanya mengangguk tapi tetap diam.
“Yosa kenapa sih diem aja? Mungkin dia perlu istirahat kali ya… Balik aja ah!” batin Ana. “Yos, gue balik dulu ya… Lo istirahat aja, besok masuk yaaa…” Ana pun meninggalkan kamar
Yosa. Yosa hanya diam. Bisu.

(bersambung)

7.8.10

Kejadian Aneh di Singapura

Hey temaaan ..

Aku jarang update blog nihh .. ~~” abisnya bingung mau cerita apa ..

Naah, sekarang berhubung lagi pengen ngetik-ngetik, aku mau cerita sedikit tentang hal-hal aneh yang aku temuin selama aku ikut program Student Exchange ke Singapura.

Sebenernya cerita ini uda lamaaaa banget ! tapi berhubung baru bisa nulis sekarang, aku cerita aja deh. Ceritanya bermula waktu aku dan temen-temen STUDEX di hostel kita.

Hari pertama dateng, aku sih biasa aja, ga ngerasa ada yang aneh. Tapi denger cerita dari temen-temen, katanya ada yang suka nge
flush toilet. Padahal di dalem toilet ga da orang. Itu cerita dari Vanda.

Nah, ada lagi, waktu hari ke berapa gitu (lupa), kameranya Alfi yang tadinya ada di kasur, ga ada... ILANG ! eh, besoknya ketemu di bawah celana jeansnya di koper. Gatau itu Alfi yang lupa naroh apa emang ada
something di kamar dia. Soalnya dia sekamar sama Vanda. Kalo kata Alira sih , emang ada yang tinggal di kamar itu. Alira juga pernah ngomong, “Kalo ‘dia’ iseng, ajak kenalan aja...” dengan santainya. Haduuuh –“

Ada lagi, kartu hostelku yang seharusnya dipake buat naik turun lift, dipinjem ma Sekar. Pas aku tanya mana kartuku, kata dia uda dibalikin di kamar Alira, soalnya waktu itu kita sleep over di kamar Alira sambil main jujur-berani. Aku cari tuh di kamar Alira, aku nemu 1 kartu. Pas aku tanya punya siapa, ga da yang ngaku. Terus aku ambil aja kartunya, kukira itu punyaku.

Tapi pas hari terakhir kita di hostel, Jasmine nanya ke aku, “Teh, kartu teteh yang nomornya 090 bukan?”. Aku jawab, “gatau, tapi itu aku nemu di kamar Alira, aku tanya punya siapa, ga ada yang ngaku. Aku ambil aja kartunya, Mine jawab lagi, “Oh, itu punyaku teh yang nomernya 090. Aku ambil ya?” “yaudah..” Pertanyaannya, dimana kartuku???

Aku udah panik, soalnya kalo ilang harus ganti 30 dollar Singapore = Rp21.000,-. Hah?!!?! Aku bilang ke Miss Selly, katanya aku sama Sekar patungan buat bayar denda. Kenapa Sekar ikutan? Karena dia yang minjem kartuku. Yaudah tuh pasrah...

Eh, pas terakhir kalinya kita makan di hostel sebelum berangkat ke bandara, Alfi bilang, “Van, lu lupa bawa kartu lu yaa? Nih tadi masih ada di kamar.” Vanda jawab, “Loh? Gue kan selalu bawa kartu gue ke mana-mana..” “Terus ini kartu siapa?” kata Alfi. Aku kaget ! Berarti mungkin aja itu kartuku. Waduuh? Kok bisa pindah tempat ya? Aneh-aneh-aneh ! Alhamdulillah, aku gajadi bayar denda.

Selain itu, banyak banget kejadian-kejadian aneh yang ada. Kayak barang-barang Alira ilang tapi tiba-tiba balik lagi, kunci kamar pa Odik ilang tiba-tiba ada di dalem sarung bantal (?), terus Miss Selly denger kerucukan air dari kamar mandinya padahal MisSell sendirian, dll !

Yaaah ... itulah sedikit dari sekian banyak pengalaman yang aku alami di Singapore... Tapi tetep seru kok ! mungkin lain kali aku cerita lagi ..

Sekiaaaan .. :)


NB : Buat foto-foto , bisa liat di FBku aja (sakurablue14@gmail.com)

MAAF BANGET !

Aku minta maaf kalo jarang update blog .. karena sekarang aku uda kelas 9 , mau fokus belajar .. mungkin kalau ada waktu , baru aku update ..

maaf, 미아네요 .. :)