21.1.18

Bersahabat dengan Kebaikan

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Yunus: 107)

Sudah 2 minggu, mungkin lebih, saya berkutat dengan dunia. Entahlah, saya hampir kembali kehilangan tujuan hidup saya. Dikejar deadline ini dan itu. Harus mengerjakan ini dan itu. Pulang lebih dari waktu magrib dan segala hal keduniawian lainnya. Saya kehilangan diri saya, dan saya merasa semakin jauh. Jauh dan jauh lagi dari-Nya.

Mungkin tidak hanya saya, yang merasa jenuh dan muak dengan segala rutinitas tanpa jeda. Sholat pun hanya dilakukan sekedar menggugurkan kewajiban. Seluruh ibadah kehilangan maknanya. Satu hal yang saya khawatirkan, hati saya mati.

Saya jenuh. Sampai di puncak saya berkata bahwa saya lelah untuk hidup, dengan hidup yang seperti ini. Rutinitas bangun pagi-kerja-pulang malam-lelah-tidur-bangun pagi lagi, membuat saya tidak bisa melawan diri untuk terjaga di sepertiga malam. Sungguh itu sangat melelahkan.

15.1.18

Percakapan tentang Keridhoan Hati

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Ada sebuah percakapan dengan seorang sahabat, yang sangat sayang jika tidak saya bagi. Percakapan ini sesungguhnya menjadi nasihat bagi diri saya sendiri. Bahkan, saya tidak menyadari bahwa saya bisa sampai pada percakapan ini. Yah, silakan disimak :)

Keterangannya, A = Saya, S = Sahabat saya.

A = “Eh, Tau gak? Aku habis ngereply snapgram temenku. Jadi disuruh pilih angka gitu, terus dia bakal ngasih pertanyaan. Tau gak aku dapet pertanyaan apa?”
S = “Wanna date with me? Wkwkwk”
A = “Wkwkwk hampiiiiirr... Who do you wish to date in the future? Wkwkwk”
S = “Wkwkwk, trus kamu jawab apa?”
A = “Aku gabisa jawab coba wkwkwk, karena aku binguuung, ntah kenapa. Padahal biasanya aku ada satu nama gitu lho wkwkwk”
S = “Belum diputuskan? Tidak terdefinisi? Memori tidak ditemukan? Wkwkwk”
A = “Hahaha, kok lawak sih... Kayak udah mau siapa, bodo amat gitu lho.. Gak narget siapa-siapa lagi aku. Haduuh..”
S = “Kirain kamu bakal jawab si itu wkwkwk”
A = “Aku juga mengira aku akan jawab dia. Tapi ga sampe hati tu lho mau nulis namanya...”
S = “Kayaknya asik juga ya kalo bisa bodo amat gitu. Asal udah percaya sama ketentuan-Nya, sama siapa aja hayuk.
A = “Nah ituuu.. Kayak takut mau nyebut nama karena kan kita gatau apa emang dia yang terbaik?”
S = “Utuk utuk, benar sekaleee.. Itu ga sampe hati nyebut namanya soalnya namanya udah ada di hati ya? Hahaha”
A = “Ih lawak kan hahaha”
S = “Btw, akhir-akhir ini aku mikir, kalo kita bikin standar atau target gitu, tapi malah dapetnya ga sesuai, apa kita bisa tetep ridho sama yang Allah kasih ya? Standar dalam hal pasangan misalnya..”

9.1.18

Berjumpa Perpisahan

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Layaknya setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Tapi apakah pertemuan dengan perpisahan pun akan berujung pada perpisahan dengan perpisahan?

Sudah sekian lama, saya tidak pernah sesedih hari itu, Kamis, 4 Januari 2018. Sedih yang datang karena sebuah kata “pamit” dari seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa dalam hidup saja—jika kita pikir dengan logika. Saya pernah mengalami sedih yang mendalam ketika berpisah dengan seseorang. Tapi itu sebuah kewajaran bagi saya jika seseorang itu memiliki arti dan memang dekat dengan saya.

Lain halnya dengan Kamis, 4 Januari 2018.

Sebut saja Bapak Y. Beliau adalah seorang dari sebuah perusahaan outsource yang bertugas menjaga kebersihan sebuah lantai gedung tempat saya bekerja—sepengetahuan saya seperti itu. Setiap pagi, beliau yang menyalakan AC ruangan, membuang sampah, menyapu, mengelap jendela, dan segala hal bersih-bersih lainnya. Saya dan Bapak Y tidak pernah terlibat dalam sebuah interaksi yang mendalam. Jika pun bertemu, kami hanya sekedar bertegur sapa,

“Mari, Pak.”
“Iya, Mbak.”

Ada angin, ada hujan, di luar. Tapi kondisi di dalam, saya tidak tahu pastinya. Tiba-tiba sore itu, Bapak Y mengetuk dan membuka pintu ruangan sembari berucap kepada seluruh manusia di dalam ruangan itu—yang kebetulan perempuan semua, “Mbak, bisa bicara sebentar? Saya mau pamitan.”

31.12.17

Menemukan Jawaban

Bismillaahirrrahmaanirrahiim..

Di akhir tahun 2017.

Aku meyakini bahwa setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban yang akan terjawab secara langsung maupun tertunda. Aku pun meyakini bahwa tidak ada manusia yang tidak memiliki pertanyaan dalam hidupnya. Meski hanya sekedar bertanya Setelah ini apa yang akan kulakukan? Setelah akhirnya kita melakukan sesuatu atau hanya berdiam diri, pertanyaan itu akan terjawab bukan?

Ya. Jawaban dari setiap pertanyaan akan datang disaat yang tepat. DI kala hati telah siap. Dari dan untuk orang yang tepat. Toh jikalau belum mendapatkan jawaban, mungkin sesungguhnya hati kita belum siap untuk menerima jawaban itu. Mungkin pula belum waktunya, atau mungkin diri kita bukanlah tempat yang tepat untuk menjadi persinggahan dari sebuah jawaban. Pun bisa jadi, kita hanya menunggu tanpa bergerak menemukan jawaban itu...

Di akhir lembaran kisah tahunan yang kutulis ini, aku ingin menekankan bahwa aku belajar banyak—tahun ini—tentang bagaimana bersabar menemukan jawaban, bersabar akan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dan meyakini bahwa ia akan terjawab pada saat yang tepat.

Menemukan.
Bukan mencari.

Sama halnya seperti menemukan hikmah-hikmah bertebaran di muka bumi ini. Sama halnya seperti menjemput rezeki yang telah Allah siapkan untuk kita. Seperti itulah kita menjemput dan menemukan jawaban atas setiap pertanyaan. Mungkin terkadang butuh usaha keras, peluh lelah, air mata, dan sakit tiada tara, namun semua itu akan sepadan dengan jawaban yang kita dapatkan.

Bersabar. Berusaha.

Beberapa pertanyaanku di awal tahun 2017, sudah terjawab. Beberapa lainnya mungkin belum. Pun dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang datang silih berganti, penting tidak penting, namun semua itu akan menemukan jawabannya. 

Termasuk pertanyaan apakah aku akan bersamamu, atau bersama orang lain, itu akan terjawab pada waktunya. Kala hati kita telah siap menerima segala kemungkinan. Baik dan buruk. Tetaplah ingat, bahwa apapun yang buruk bagi kita, bisa jadi itulah yang terbaik. Begitupun sebaliknya. Apapun yang kita dapatkan, apapun jawaban yang kita temukan, itu adalah yang terbaik dariNya. Yakinlah bahwa Ia tidak akan menyia-nyiakan hambanya, apalagi mempermainkan perasaan dan harapan hambaNya.

Jika kita merasa dipermainkan, tilik lagi dalam diri, apakah Ia yang mempermainkan, atau justru kita sendirilah yang bermain dengan imajinasi dan harapan-harapan buatan diri sendiri. Aku meyakini, bahwa Ia tidak pernah mempermainkan hambaNya.

Selamat jalan lembaran lama. Aku menutupmu bukan berarti melupakanmu. Tapi aku menutupmu, untuk membuka lembaran baru yang akan menjadi teman barumu, teman ketika aku membuka lembaran lama untuk kembali belajar, kembali merefleksi diri, tanpa meniadakan satu sama lain.

Karena kalian adalah aku.

Kalian adalah catatan perjalanan kisahku. Target-target yang belum tercapai. Sedih, senang, angan, harapan. Kalian akan berjalan beriringan tanpa meniadakan.

salam,
anisanza