2.3.18

Ta'aruf dan Perbedaannya dengan Bukan Ta'aruf

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujuraat: 13)

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Sering kita mendengar pepatah, tak kenal maka tak sayang. Beberapa waktu terakhir, kita—atau hanya saya saja yang merasa—sering mendengar pepatah itu sedikit diubah menjadi tak kenal maka ta’aruf. Dan sepertinya kita sudah tidak asing dengan kata Taaruf. Terlebih jika diasosiasikan dengan sebuah jenjang penting dalam kehidupan manusia yaitu pernikahan, hahaha...

Sebenarnya, Ta’aruf itu adalah level pertama dari ukhuwah islamiyyah, atau persaudaraan antar sesama muslim. Makna umumnya adalah saling mengenal atau berkenalan. Dalam tingkatan ukhuwah islamiyyah, taaruf berada pada level awal untuk selanjutnya menaiki  tangga-tangga ukhuwah seperti Tafahum (Saling memahami), Ta’awun (saling tolong menolong), Takaful (saling menanggung beban), dan Itsar (mendahulukan saudaranya dibanding dirinya sendiri).

Kalo inget sebuah kisah tentang Itsar, diceritakan ada beberapa pemuda yang sedang dalam perjalanan dan mereka sudah kehabisan bekal. Tersisa air minum yang hanya tinggal seteguk. Pemuda pertama memberikan air itu pada saudaranya yang juga kehausan. Akan tetapi, ia yang diberi minum memberikannya lagi pada saudaranya yang lain yang juga kehausan. Begitu seterusnya sampai ketika kembali pada pemuda pertama, ia sudah wafat, dan mereka wafat bersama karena ingin mendahulukan saudaranya atas dirinya sendiri.

Baik, sebenarnya saya ingin berbagi tentang sebuah materi yang saya dapatkan di kajian beberapa waktu lalu. Temanya tentang Salah Kaprah Ta’aruf, dan ta’aruf yang dimaksud di sini adalah ta’aruf dalam hal proses pernikahan.

22.2.18

Doa; Hal sederhana yang Kerap Dilupakan


“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”
-QS. Ghaafir: 60-

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Saya ingat, bulan ini setahun yang lalu, saya sedang galau-galaunya soal KKN. Kenapa? Karena di saat hampir semua teman-teman saya sudah dapat tempat KKN dan mereka bertanya kepada saya dimana saya akan KKN, saya hanya bisa menjawab, “Belum tau. Belum dapet tim.”

Awalnya, saya memang berniat ikut oprec-an KKN yang hampir setiap hari tersebar di berbagai grup dan media sosial. Sempat saya ikut satu oprec dari sebuah tim yang mengusulkan tempat KKN di Manggar, Belitung, karena dapet sebaran info dari seorang teman yang jadi tim pengusul di situ. Tapi hasilnya, saya tidak dapat masuk tim. Sejak saat itu, saya entah bagaimana semakin mantap untuk ikut plottingan dari universitas saja.

Saya menceritakan semuanya pada orang tua. Dari mulai kebingungan akan KKN di mana, ketakutan tidak ada teman yang bisa diajak bekerja bersama saat KKN, dan berbagai kecemasan lainnya. Pilihan untuk mencoba oprec di KKN Manggar—yang ternyata kalah battle tempat haha—juga saya ceritakan. Sampai pada keputusan untuk ikut plottingan saja, saya ceritakan ke orang tua. Kenapa?

Karena saya tidak pernah berani bergerak tanpa restu orang tua.

Selama proses sendiri tanpa tim KKN, saya selalu berdoa, agar di mana pun saya ditempatkan nanti, saya berharap kehadiran saya memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat, baik bagi teman satu tim maupun bagi tempat saya KKN nantinya. Setiap sholat, setiap sujud, setiap lihat info oprec-an yang gamau saya ikutin lagi, saya selipkan doa itu.

21.1.18

Bersahabat dengan Kebaikan

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Yunus: 107)

Sudah 2 minggu, mungkin lebih, saya berkutat dengan dunia. Entahlah, saya hampir kembali kehilangan tujuan hidup saya. Dikejar deadline ini dan itu. Harus mengerjakan ini dan itu. Pulang lebih dari waktu magrib dan segala hal keduniawian lainnya. Saya kehilangan diri saya, dan saya merasa semakin jauh. Jauh dan jauh lagi dari-Nya.

Mungkin tidak hanya saya, yang merasa jenuh dan muak dengan segala rutinitas tanpa jeda. Sholat pun hanya dilakukan sekedar menggugurkan kewajiban. Seluruh ibadah kehilangan maknanya. Satu hal yang saya khawatirkan, hati saya mati.

Saya jenuh. Sampai di puncak saya berkata bahwa saya lelah untuk hidup, dengan hidup yang seperti ini. Rutinitas bangun pagi-kerja-pulang malam-lelah-tidur-bangun pagi lagi, membuat saya tidak bisa melawan diri untuk terjaga di sepertiga malam. Sungguh itu sangat melelahkan.

15.1.18

Percakapan tentang Keridhoan Hati

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Ada sebuah percakapan dengan seorang sahabat, yang sangat sayang jika tidak saya bagi. Percakapan ini sesungguhnya menjadi nasihat bagi diri saya sendiri. Bahkan, saya tidak menyadari bahwa saya bisa sampai pada percakapan ini. Yah, silakan disimak :)

Keterangannya, A = Saya, S = Sahabat saya.

A = “Eh, Tau gak? Aku habis ngereply snapgram temenku. Jadi disuruh pilih angka gitu, terus dia bakal ngasih pertanyaan. Tau gak aku dapet pertanyaan apa?”
S = “Wanna date with me? Wkwkwk”
A = “Wkwkwk hampiiiiirr... Who do you wish to date in the future? Wkwkwk”
S = “Wkwkwk, trus kamu jawab apa?”
A = “Aku gabisa jawab coba wkwkwk, karena aku binguuung, ntah kenapa. Padahal biasanya aku ada satu nama gitu lho wkwkwk”
S = “Belum diputuskan? Tidak terdefinisi? Memori tidak ditemukan? Wkwkwk”
A = “Hahaha, kok lawak sih... Kayak udah mau siapa, bodo amat gitu lho.. Gak narget siapa-siapa lagi aku. Haduuh..”
S = “Kirain kamu bakal jawab si itu wkwkwk”
A = “Aku juga mengira aku akan jawab dia. Tapi ga sampe hati tu lho mau nulis namanya...”
S = “Kayaknya asik juga ya kalo bisa bodo amat gitu. Asal udah percaya sama ketentuan-Nya, sama siapa aja hayuk.
A = “Nah ituuu.. Kayak takut mau nyebut nama karena kan kita gatau apa emang dia yang terbaik?”
S = “Utuk utuk, benar sekaleee.. Itu ga sampe hati nyebut namanya soalnya namanya udah ada di hati ya? Hahaha”
A = “Ih lawak kan hahaha”
S = “Btw, akhir-akhir ini aku mikir, kalo kita bikin standar atau target gitu, tapi malah dapetnya ga sesuai, apa kita bisa tetep ridho sama yang Allah kasih ya? Standar dalam hal pasangan misalnya..”